oleh

PRSU Bukan Lagi Sekadar Tiket Masuk, tetapi Jalan Bobby Membangun Wajah Baru Sumut

PRSU Bukan Lagi Sekadar Tiket Masuk, tetapi Jalan Bobby Membangun Wajah Baru Sumut

Oleh Ir Zulfikar Tanjung
.

Adanya beragam pendapat mengenai harga tiket masuk Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 adalah lumrah untuk sebuah perhelatan berskala besar.

Dalam sebuah ruang publik, beragam pandangan seperti itu merupakan sesuatu dinamika positip

Namun, apabila hanya berhenti pada angka yang tercetak di loket masuk, nuansanya bisa berisiko kehilangan gambaran yang lebih besar.

Sebab, PRSU ke-50 sesungguhnya sedang mencoba menawarkan sebuah paradigma baru yang jauh melampaui fungsi sebuah pesta rakyat.

Di bawah kepemimpinan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, PRSU diarahkan untuk bertransformasi menjadi etalase budaya, perdagangan, investasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

Ambisi itu bahkan telah mendapat dukungan dari Komisi VII DPR RI yang mendorong agar PRSU masuk ke dalam kalender event nasional.

Artinya, yang sedang dibangun bukan sekadar keramaian selama beberapa pekan, melainkan fondasi sebuah agenda strategis yang diharapkan mampu mengangkat daya saing Sumatera Utara di tingkat nasional.

BACA JUGA:  Gubsu ajak pejabat daerah berjihad Bangun Madina Libatkan Raja Adat dan Ulama

Karena itu, penjelasan panitia mengenai harga tiket patut dipahami dalam konteks yang lebih luas.

*(Tanpa APBD)*

Humas PRSU, Farah, menjelaskan bahwa penyelenggaraan PRSU tahun ini tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan dibangun melalui kolaborasi dan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan.

Menurutnya, harga tiket tidak hanya menjadi akses masuk ke arena PRSU, tetapi juga merupakan bagian dari dukungan terhadap pengembangan seni, budaya, UMKM, dan ekonomi kreatif Sumatera Utara.

Lebih jauh, sekitar 75 persen konten PRSU diisi oleh putra-putri daerah.

Pertunjukan seni, pameran budaya, produk UMKM, hingga berbagai kegiatan ekonomi kreatif dikurasi untuk menghadirkan kualitas yang lebih baik sekaligus memberi ruang lebih besar bagi talenta lokal.

Di sinilah sesungguhnya letak perubahan cara pandang itu.

BACA JUGA:  Diduga Korban Pembunuhan, Mayat Pria Ditemukan di Langkat

Apabila selama ini masyarakat mengenal PRSU sebagai tempat hiburan, maka kini penyelenggara ingin menjadikannya sebagai titik temu berbagai potensi Sumatera Utara.

PRSU diproyeksikan menjadi ruang yang mempertemukan pelaku usaha, investor, akademisi, komunitas kreatif, pemerintah daerah, hingga masyarakat dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Transformasi semacam itu tentu membutuhkan investasi, bukan hanya investasi dana, tetapi juga investasi gagasan, tata kelola, dan keberanian untuk keluar dari pola lama.

*(Visi Besar)*

Tentu saja, visi besar tidak dapat berdiri sendiri. Ia harus diikuti kualitas penyelenggaraan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Kritik mengenai harga tiket, pelayanan, kenyamanan, parkir, maupun fasilitas harus tetap dijadikan bahan evaluasi.

Sebab sebuah trade fair bertaraf nasional tidak cukup dibangun melalui konsep yang baik, melainkan juga melalui pengalaman positif setiap pengunjung.

Di sinilah tantangan besar Direktur Utama PT Pembangunan Prasarana Sumatera Utara (Perseroda), Ferry Indra, sebagai penyelenggara. Gagasan besar yang telah diletakkan Bobby Nasution hanya akan memperoleh legitimasi apabila diterjemahkan menjadi pelayanan yang profesional, tata kelola yang semakin baik, dan penyelenggaraan yang mampu memuaskan publik.

BACA JUGA:  Jaksa Menyapa SMAN 5 Medan, Kejatisu Ingatkan Bahaya Paham Radikal dan Berita Hoaks di Medsos

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa harga tiket PRSU pada tahun 2026.

Yang akan dikenang adalah apakah usia emas PRSU benar-benar menjadi titik balik lahirnya sebuah wajah baru Sumatera Utara.

Jika transformasi itu berhasil diwujudkan secara konsisten, maka harga tiket tidak lagi menjadi pusat perdebatan.

Yang akan menjadi pembicaraan adalah bagaimana PRSU berhasil menjelma menjadi kebanggaan daerah, pintu promosi investasi, panggung budaya, dan etalase ekonomi kreatif yang layak diperhitungkan di tingkat nasional.

Itulah sesungguhnya mimpi besar yang sedang dibangun. Dan seperti setiap mimpi besar lainnya, ia membutuhkan dukungan, kritik yang konstruktif, serta komitmen bersama agar benar-benar menjadi kenyataan. (*penulis bersertifikat wartawan utama dewan pers*)

News Feed