oleh

Normalisasi yang Berbahaya: Ketika Mabuk dan Narkoba Menjadi Bagian dari Pemandangan Kota (Bagian 1)

Normalisasi yang Berbahaya: Ketika Mabuk dan Narkoba Menjadi Bagian dari Pemandangan Kota (1)

Oleh Attar Reynard Aqmal Devin

Penyalahgunaan dan peredaran Narkoba masih menjadi salah satu permasalahan sosial yang serius di Indonesia. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya menyasar kesehatan fisik dan mental individu, tetapi juga memengaruhi keamanan, produktivitas, serta kualitas sumber daya manusia. Tingginya angka penyalahgunaan Narkoba menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan pemberantasan yang dilakukan selama ini masih menghadapi berbagai tantangan. Kondisi ini menjadi perhatian penting karena Narkoba dapat merusak masa depan generasi muda yang merupakan aset pembangunan bangsa.

Fenomena tersebut terlihat dari tingginya angka penyalahgunaan Narkoba di Sumatera Utara. Berdasarkan hasil survei Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Pusat Statistik (BPS), Sumatera Utara menempati peringkat pertama angka prevalensi pengguna Narkoba di Indonesia dengan jumlah sekitar 1,5 juta pengguna dari total 15 juta penduduk atau sekitar 10% dari populasi. Data tersebut menunjukkan bahwa peredaran dan penggunaan Narkoba telah menjadi persoalan yang mengakar dan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Tingginya angka pengguna Narkoba juga tercermin dari banyaknya kasus yang berhasil diungkap aparat penegak hukum. Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumatera Utara mencatat telah mengungkap 923 kasus narkotika dengan 1.118 tersangka selama periode Januari hingga Februari 2026. Dalam pengungkapan tersebut, aparat berhasil menyita berbagai jenis narkotika, termasuk ratusan kilogram sabu dan ganja serta puluhan ribu butir ekstasi. Dari total barang bukti yang diamankan, diperkirakan sekitar 1,48 juta jiwa berhasil diselamatkan dari potensi penyalahgunaan narkoba. Data ini menunjukkan bahwa peredaran Narkoba masih berlangsung secara masif dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

BACA JUGA:  Ketika Jalanan Menjadi Ancaman: Memahami Ketakutan Akan Kejahatan dan Rasa Aman Masyarakat Medan

Di sisi lain, dampak penyalahgunaan Narkoba seringkali tampak secara nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui fenomena individu yang mabuk atau berada di bawah pengaruh zat adiktif di ruang publik. Tidak sedikit masyarakat yang menjumpai orang dengan perilaku tidak terkendali, berbicara tidak jelas, kehilangan kesadaran situasional, atau bahkan bertindak agresif di jalanan. Fenomena ini kerap dianggap sebagai hal yang biasa, padahal kondisi mabuk dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain, meningkatkan risiko kecelakaan, serta menimbulkan rasa tidak aman di lingkungan masyarakat. Ironisnya, ketika masyarakat mulai terbiasa melihat orang mabuk di jalanan, muncul kecenderungan untuk menganggap fenomena tersebut sebagai bagian normal dari kehidupan perkotaan. Maka perlu diamati faktor-faktor lebih lanjut mengenai terjadinya fenomena Narkoba hingga diakhiri dengan mabuk.

1. Stress dan Mekanisme Pelarian Diri

Salah satu faktor psikologis yang dapat mendorong seseorang mencoba Narkoba adalah keinginan untuk melarikan diri dari tekanan hidup yang dirasakan. Menurut Lazarus dan Folkman (1984) dalam teori Stress and Coping, setiap individu akan melakukan penilaian terhadap situasi yang dihadapi dan berusaha mengatasi tekanan tersebut melalui berbagai strategi koping. Namun, tidak semua individu memiliki kemampuan koping yang adaptif. Ketika seseorang merasa tidak mampu menghadapi masalah, seperti konflik keluarga, tekanan akademik, kesulitan ekonomi, atau masalah pekerjaan, ia dapat mencari cara yang dianggap mampu memberikan ketenangan secara cepat, termasuk menggunakan narkoba.

BACA JUGA:  Kemenangan Biden,  Bagaimana Pengaruh Ekonomi Sumut?

Pada awalnya, penggunaan Narkoba mungkin memberikan efek sementara berupa rasa rileks, tenang, atau bahkan melupakan masalah yang sedang dihadapi. Kondisi ini membuat sebagian individu menganggap Narkoba sebagai solusi untuk mengurangi stres. Padahal, efek tersebut hanya bersifat sesaat dan tidak menyelesaikan sumber permasalahan yang sebenarnya. Ketika efek zat mulai menghilang, individu seringkali kembali merasakan tekanan yang sama bahkan dalam intensitas yang lebih tinggi, sehingga muncul dorongan untuk menggunakan Narkoba kembali. Siklus inilah yang kemudian dapat berkembang menjadi ketergantungan.

2. Pengaruh Pergaulan dan Kebutuhan Diterima di Kelompok

Faktor selanjutnya yang mendorong seseorang mencoba Narkoba adalah pengaruh lingkungan pergaulan. Menurut Albert Bandura melalui Social Learning Theory, perilaku manusia dipelajari melalui proses observasi dan peniruan terhadap perilaku orang lain yang dianggap penting atau memiliki pengaruh dalam lingkungannya. Individu tidak hanya belajar dari pengalaman pribadi, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dilakukan oleh teman, keluarga, maupun kelompok sosial di sekitarnya. Apabila suatu perilaku dianggap dapat memberikan keuntungan sosial, seperti penerimaan kelompok atau pengakuan dari teman sebaya, maka individu akan lebih cenderung meniru perilaku tersebut.
Teori Bandura dapat menjelaskan mengapa remaja menjadi kelompok yang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Pada masa remaja, interaksi dengan teman sebaya menjadi semakin intens dan seringkali memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan keluarga. Ketika seorang remaja melihat teman-temannya menggunakan Narkoba dan tetap diterima dalam kelompok, bahkan dianggap lebih berani atau lebih “gaul”, maka perilaku tersebut dapat dipersepsikan sebagai sesuatu yang wajar. Melalui proses observational learning, remaja kemudian terdorong untuk mencoba perilaku yang sama agar memperoleh penerimaan sosial dan status yang serupa dalam kelompoknya. Fenomena ini sejalan dengan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) yang menunjukkan adanya peningkatan penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja dari sekitar 20% menjadi 24–28%. BNN juga mengungkapkan bahwa faktor pergaulan dan pengaruh teman sebaya menjadi salah satu penyebab utama remaja mulai menggunakan narkoba. (Beesambung)

News Feed