oleh

Gerak Cepat Muhammad Suib Terjemahkan Impian Bobby dan Akselerasi Timur Tumanggor di KKSB

Gerak Cepat Muhammad Suib Terjemahkan Impian Bobby dan Akselerasi Timur Tumanggor di KKSB

Gagasan besar dalam pemerintahan selalu membutuhkan lebih dari sekadar visi. Ia memerlukan birokrasi yang mampu bergerak, menerjemahkan arah politik menjadi desain teknis, lalu memastikan program benar-benar menemukan jalannya hingga ke masyarakat.

Di Sumatera Utara, rangkaian itulah yang mulai terlihat dalam persiapan Program Kampung Kreatif Sumut Berkah (KKSB). Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution telah meletakkan pembangunan desa sebagai salah satu arah penting pembangunan daerah. Pj Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara Timur Tumanggor kemudian memacu mesin birokrasi agar gagasan tersebut segera memperoleh bentuk dan mekanisme kerja.

Kini, pekerjaan itu memasuki ruang teknis.

Di garis inilah Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Kependudukan dan Catatan Sipil Sumatera Utara, Muhammad Suib, mulai mengambil peran penting.

Belum lama menerima amanah memimpin perangkat daerah tersebut, Suib yang definitifnya asisten admum itu langsung tampil menjelaskan arah, konsep, mekanisme, hingga tahapan pelaksanaan Kampung Kreatif Sumut Berkah.

Langkah itu menunjukkan satu hal: gagasan besar tentang pembangunan desa tidak boleh terlalu lama berada dalam ruang konseptual.

Ia harus segera diterjemahkan menjadi pekerjaan.

*Dari Visi ke Mekanisme*

KKSB merupakan Program Strategis Daerah pada era kepemimpinan Bobby Nasution dan Wakil Gubernur Surya. Program tersebut diarahkan untuk menjawab salah satu persoalan klasik pembangunan desa, yakni pendekatan yang selama ini cenderung parsial.

BACA JUGA:  Jelang Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2024, TelkomGroup Deklarasikan Komitmen Anti Korupsi

Jembatan dibangun di satu titik. Rumah diperbaiki dalam jumlah terbatas. Fasilitas dasar ditambah secara terpisah. Pembangunan berlangsung, tetapi sering kali belum cukup kuat mengubah wajah dan produktivitas sebuah kawasan.

Di sinilah Muhammad Suib menawarkan cara pandang berbeda.

KKSB dirancang dengan pendekatan area based development atau pembangunan kawasan terpadu. Satu dusun, sebuah kawasan, bahkan kawasan wisata yang memiliki potensi dapat ditangani secara lebih menyeluruh.

Pendekatan itu sekaligus membedakan KKSB dari pola pembangunan desa yang hanya menyentuh satu sektor atau satu kegiatan.

Pembangunan fisik tidak berdiri sendiri. Potensi ekonomi, pertanian, lingkungan, pelayanan dasar, tata kelola, kreativitas masyarakat, hingga akses pasar harus dipertimbangkan sebagai satu kesatuan.

*Inilah titik penting gerak teknis Suib*.

Ia tidak sekadar menyampaikan bahwa Pemprov Sumut memiliki program baru. Ia mulai menjelaskan bagaimana program itu bekerja.

Rp5 Miliar hingga Rp50 Miliar untuk Transformasi Kawasan

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyiapkan Bantuan Keuangan Khusus dengan nilai sekitar Rp5 miliar hingga Rp50 miliar per kawasan, sesuai kriteria yang ditetapkan.

Angka tersebut tentu menarik perhatian. Namun, nilai sebenarnya terletak pada mekanisme penggunaannya.

Bantuan itu dirancang khusus untuk Kampung Kreatif Sumut Berkah dan tidak dimaksudkan berubah menjadi program lain. Artinya, terdapat upaya menjaga konsistensi antara tujuan, pembiayaan, dan hasil yang ingin dicapai.

Bagi desa-desa tertinggal, pendekatan semacam ini memiliki arti penting.

Berdasarkan data yang digunakan dalam persiapan program, dari ribuan desa di Sumatera Utara masih terdapat desa berstatus tertinggal dan sangat tertinggal. Tantangannya bukan sekadar menyediakan anggaran, tetapi bagaimana anggaran tersebut mampu menjadi pemantik perubahan.

BACA JUGA:  Bupati Karo Hadiri Resepsi Pernikahan Putra Plt BPBD Sumut Dr Ir Riadil Akhir Lubis MSi

*Desa harus naik kelas*.

Potensi yang selama ini hanya digunakan secara tradisional harus menemukan nilai ekonomi baru. Masyarakat tidak cukup hanya menjadi penerima pembangunan, melainkan harus menjadi bagian dari penggerak pembangunan itu sendiri.

Di sinilah konsep community driven memperoleh relevansinya.

Menggerakkan Mesin Lintas OPD

Gerak cepat Muhammad Suib juga terlihat dari kesiapan mekanisme penjaringan.

Program ini tidak akan dikerjakan satu perangkat daerah. Sebanyak 19 OPD dan tenaga ahli dari kalangan akademisi disiapkan untuk terlibat dalam proses penilaian dan verifikasi.

Pemerintah kabupaten dan kota menjadi pintu awal pengajuan calon kawasan penerima. Proposal kemudian dinilai berdasarkan berbagai indikator, sebelum tim turun melakukan verifikasi faktual ke lapangan.

Ada jadwal. Ada tahapan. Ada penilaian. Ada verifikasi.

Rangkaian ini penting karena pembangunan berbasis kawasan dengan nilai intervensi hingga puluhan miliar rupiah membutuhkan perencanaan yang matang.

Setelah Pj Sekdaprov Timur Tumanggor sebelumnya menegaskan pentingnya membantu tugas Gubernur mewujudkan impian Kampung Sumut Berkah, Suib kini memperlihatkan bagaimana akselerasi itu mulai diterjemahkan dalam desain teknis.

Inilah hubungan yang menarik antara visi, koordinasi, dan eksekusi.

Bobby Nasution meletakkan arah.

Timur Tumanggor menggerakkan koordinasi birokrasi.

Muhammad Suib menyiapkan jalan teknis menuju desa.

BACA JUGA:  Pernah Mengurus Haji, Rahmadani Lubis Nilai Pelayanan Embarkasi Medan Kian Berkembang

Bukti Mesin Pemerintahan Mulai Bergerak

Tentu masih terlalu dini untuk mengukur keberhasilan KKSB. Pelaksanaan pembangunan baru direncanakan dimulai pada 2027.

Namun, tahap awal sebuah program sering kali menentukan kualitas hasil akhirnya.

Program yang besar dapat kehilangan arah apabila tidak memiliki mekanisme yang jelas. Sebaliknya, sebuah gagasan memiliki peluang menjadi nyata ketika sejak awal sudah diterjemahkan ke dalam jadwal, kriteria, anggaran, koordinasi, dan pengawasan.

Di sinilah gerak cepat Muhammad Suib menemukan maknanya.

Sebagai Plt kepala dinas yang baru menerima amanah, ia tidak hanya tampil sebagai penjaga administrasi perangkat daerah. Ia mulai mengambil posisi sebagai penerjemah teknis sebuah agenda pembangunan besar.

Bagi Bobby Nasution, langkah seperti ini penting karena visi seorang gubernur membutuhkan pejabat-pejabat yang mampu bekerja menerjemahkan gagasan.

Bagi Timur Tumanggor, hal ini menunjukkan bahwa akselerasi birokrasi yang didorongnya mulai memperoleh respons hingga ke perangkat daerah.

Dan bagi masyarakat desa, yang paling penting adalah hasil akhirnya.

Apakah kampung berubah? Apakah ekonomi tumbuh? Apakah potensi lokal berkembang? Apakah desa tertinggal benar-benar dapat naik kelas?

Jawaban atas pertanyaan itu tentu masih berada di depan.

Namun, setidaknya jalan menuju ke sana mulai disiapkan.

Dari impian Bobby Nasution, akselerasi Timur Tumanggor, hingga gerak teknis Muhammad Suib, Kampung Kreatif Sumut Berkah kini sedang bergerak dari gagasan menuju kemungkinan menjadi kenyataan. (*penilis bersertifikat wartawan utama dewan pers)*

News Feed