oleh

Salah Hujan atau Salah Manusia Membedah Perilaku Membuang Sampah Sembarangan dij Balik Banjir

Salah Hujan atau Salah Manusia Membedah Perilaku Membuang Sampah Sembarangan dij
Balik Banjir

Oleh Brillian Al Khawarizmi

Bagi sebagian warga Kota Medan, Banjir telah menjadi peristiwa yang akrab ketika
hujan turun dengan intensitas tinggi. Genangan air yang meluap dari saluran drainase kerap menghambat aktivitas masyarakat, mulai dari mobilitas hingga kegiatan di dalam rumah.

Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan fisik, tetapi juga gangguan pada kenyamanan dan rasa aman warga.

Berdasarkan kesaksian informan NAK (2026), putusnya akses internet dan
listrik saat genangan air meningkat menjadi salah satu sumber kecemasan karena
komunikasi dan aktivitas sehari-hari ikut terganggu.

Dalam kondisi tersebut, Banjir tidak lagi sekadar persoalan air yang menggenang, melainkan pengalaman yang memengaruhi
kehidupan masyarakat secara lebih luas.Apa yang dialami warga Medan sesungguhnya mencerminkan persoalan yang terjadi
di berbagai wilayah Indonesia.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB, 2026) mencatat 1.051 kejadian bencana pada paruh pertama tahun 2026, dengan 504 di antaranya merupakan Banjir yang berdampak pada jutaan jiwa. Dominasi bencana hidrometeorologi tersebut menunjukkan bahwa Banjir masih menjadi ancaman utama bagi banyak daerah,
terutama kawasan perkotaan dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

Situasi inimengingatkan pada anomali cuaca yang terjadi di Sumatera pada akhir tahun lalu yang melumpuhkan berbagai fasilitas publik dan menelan korban jiwa (Yayasan SHEEP Indonesia, 2025).

Di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, persoalan Banjir semakin sering menjadi bagian dari realitas yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Dalam banyak kasus, Banjir sering dipahami sebagai akibat dari curah hujan yang
tinggi atau anomali cuaca ekstrem. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru, bahkan informan Basarin Yunus Tanjung (2026) selaku Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan

Rakyat juga mengkategorikan fenomena yang terjadi sebagai bagian dari kondisi cuaca
ekstrem yang sedang berlangsung.
Berikut naskah Anda yang telah dirapikan spasi, paragraf, dan pemenggalan kalimatnya tanpa mengubah isi, narasi, maupun redaksinya sedikit pun.

Namun, hasil observasi dan wawancara dengan informan di lapangan menunjukkan adanya persoalan lain yang turut hadir dalam keseharian warga, yaitu pengelolaan sampah dan kondisi saluran drainase lingkungan. Tumpukan sampah masih ditemukan di sekitar parit maupun saluran air yang berfungsi mengalirkan limpasan hujan. Dari titik inilah pembahasan mengenai Banjir menjadi menarik, karena persoalan yang tampak sebagai bencana alam ternyata juga berkaitan dengan perilaku manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Sejalan dengan temuan Marzuki dan Pratama (2025), pembersihan drainase yang dilakukan secara rutin dan partisipatif terbukti efektif mencegah akumulasi sampah domestik yang menjadi salah satu penyebab Banjir lokal sekaligus mendorong tumbuhnya kesadaran warga untuk menjaga fungsi saluran air.

Dilema Retribusi dan Risiko Banjir

Salah satu persoalan yang banyak ditemukan di tingkat komunitas adalah rendahnya partisipasi warga dalam sistem pengelolaan sampah yang telah tersedia. Di Kota Medan, masalah ini menjadi perhatian karena masih ditemukannya praktik pembuangan sampah ke parit, selokan, dan lahan kosong yang tersebar di sejumlah kawasan permukiman.

BACA JUGA:  Kemenangan Biden,  Bagaimana Pengaruh Ekonomi Sumut?

Temuan di lapangan dari informan KL (2026) mengungkap bahwa sebagian warga memilih tidak membayar retribusi pengangkutan sampah dan mencari alternatif yang dianggap lebih praktis. Sampah rumah tangga dibuang ke parit, selokan, lahan kosong, atau bahkan dititipkan secara diam-diam di tempat pembuangan milik orang lain. Praktik tersebut sering kali dipandang sebagai solusi sederhana untuk mengurangi pengeluaran rumah tangga.

Namun, ketika dilakukan secara berulang dan oleh banyak orang sekaligus, perilaku ini perlahan mengubah saluran drainase menjadi tempat akumulasi sampah yang menghambat aliran air. Kondisi ini menjadi semakin penting diperhatikan mengingat sebagian wilayah Kota Medan memiliki kerentanan terhadap genangan dan Banjir saat curah hujan meningkat.

Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui konsep Temporal Discounting, yaitu kecenderungan individu untuk lebih menghargai keuntungan yang diperoleh segera daripada manfaat atau risiko yang baru dirasakan di masa depan (Critchfield & Kollins, 2001). Dalam konteks pengelolaan sampah di Kota Medan, biaya retribusi dipersepsikan sebagai pengeluaran yang harus ditanggung saat ini, sedangkan risiko penyumbatan drainase dan Banjir dianggap sebagai kemungkinan yang masih jauh dan tidak pasti.

Akibatnya, sebagian warga memilih menghemat pengeluaran jangka pendek dengan tidak membayar retribusi atau membuang sampah sembarangan. Meskipun keputusan ini tampak rasional pada tingkat individu, dampaknya menjadi signifikan ketika dilakukan secara kolektif. Akumulasi sampah dari banyak rumah tangga dapat menyumbat drainase, mengurangi kapasitas aliran air, dan mempercepat terbentuknya genangan saat curah hujan meningkat.

Seperti yang dialami informan KL (2026), ketika Banjir merendam rumah, kerugian yang ditanggung warga dapat mencapai jutaan rupiah akibat rusaknya perabotan, peralatan elektronik, dan aset rumah tangga lainnya.

Satu Orang Membuang Sampah secara Liar, Rombongan Mengikuti

Masalah sampah di lingkungan permukiman lokasi penelitian di Kota Medan sering kali tidak berhenti pada tindakan satu atau dua orang saja. Berdasarkan hasil wawancara, titik-titik pembuangan liar kerap muncul di sekitar parit, tepi jalan lingkungan, maupun lahan kosong di antara rumah warga.

Efek domino ini terlihat dari kesaksian informan KL (2026), yang menyebut bahwa keberadaan satu tumpukan sampah di depan rumahnya mendorong orang lain, bahkan dari lokasi yang cukup jauh, untuk ikut membuang sampah di tempat yang sama. Sampah yang awalnya sedikit perlahan bertambah hingga mengganggu fungsi saluran air.

Hal serupa diamati oleh informan NAK (2026), yang melihat perilaku tersebut dilakukan oleh berbagai kelompok usia. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Social Learning Theory yang dikemukakan Bandura (1977), yang menyatakan bahwa individu mempelajari perilaku melalui observasi terhadap lingkungan sosialnya. Dalam konteks ini, tumpukan sampah yang dibiarkan tanpa teguran menjadi penanda sosial yang secara tidak langsung memberi pesan bahwa perilaku tersebut dapat diterima dan layak ditiru.

Menariknya, penularan perilaku ini tetap terjadi meskipun sebagian warga memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Theory of Planned Behavior yang dikembangkan Ajzen (1991) menjelaskan bahwa perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh sikap pribadi, tetapi juga oleh subjective norms atau norma yang berkembang di lingkungan sosial.

BACA JUGA:  Anggota DPRD Medan Sayangkan Pernikahan Dini Masih Terjadi

Dalam kawasan yang terbiasa melihat sampah menumpuk di parit atau sudut permukiman, individu cenderung menganggap perilaku tersebut sebagai kebiasaan yang lumrah dilakukan warga sekitar. Kondisi ini membuat niat untuk menjaga kebersihan sering kali kalah oleh dorongan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.

Temuan Zaskia dan Ikbal (2025) mendukung penjelasan tersebut dengan menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai pengelolaan sampah tidak selalu berujung pada perubahan perilaku ketika norma sosial yang berkembang masih mendukung praktik pembuangan sampah sembarangan.

Mengapa Hujan Selalu Jadi Tersangka Utama?

Ketika Banjir mulai merendam permukiman, perhatian masyarakat umumnya tertuju pada faktor-faktor yang paling terlihat dan dirasakan secara langsung, seperti intensitas hujan yang tinggi, cuaca ekstrem, atau fenomena “air kiriman” dari wilayah hulu. Kondisi serupa juga ditemukan di lokasi penelitian di Kota Medan. Penjelasan tersebut tentu memiliki dasar karena faktor hidrometeorologi memang berperan dalam terjadinya banjir.

Namun, fokus yang kuat pada faktor alam sering membuat persoalan lingkungan yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari menjadi kurang mendapat perhatian. Informan KL (2026) mengungkapkan bahwa saat Banjir terjadi, warga lebih sering mengaitkannya dengan “air kiriman dari gunung” atau tingginya curah hujan dibandingkan kondisi saluran drainase yang telah lama dipenuhi sampah.

Akibatnya, pembahasan mengenai penyebab Banjir cenderung berpusat pada faktor yang berada di luar kendali masyarakat, sementara kondisi lingkungan yang sebenarnya dapat dikelola bersama jarang menjadi bahan refleksi.

Kecenderungan tersebut dapat dipahami melalui konsep External Locus of Control, yaitu kecenderungan individu memandang suatu peristiwa sebagai hasil dari faktor-faktor eksternal yang berada di luar kendalinya. Dalam konteks banjir, hujan ekstrem dan air kiriman lebih mudah diamati sehingga sering dianggap sebagai penyebab utama, sementara kontribusi perilaku sehari-hari, seperti membuang sampah sembarangan atau kurangnya kepedulian terhadap drainase, cenderung terabaikan.

Di sisi lain, Bapak Basarin Yunus Tanjung (2026) menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan patroli lingkungan dan menerapkan regulasi untuk mengurangi praktik pembuangan sampah sembarangan. Meski demikian, penegakan aturan di lapangan tidak selalu berjalan sederhana karena penerapan sanksi perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan konflik dengan masyarakat.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah dan Banjir tidak hanya berkaitan dengan faktor alam, tetapi juga dipengaruhi oleh cara masyarakat dan pemerintah merespons kondisi lingkungan di sekitarnya.

Kesimpulan & Saran Intervensi

Rangkaian temuan penelitian menunjukkan bahwa Banjir tidak dapat dipahami semata-mata sebagai konsekuensi curah hujan tinggi atau anomali cuaca ekstrem. Faktor hidrometeorologi memang menjadi pemicu utama, tetapi perilaku masyarakat dalam mengelola lingkungan turut menentukan tingkat keparahan dampaknya.

Kebiasaan membuang sampah sembarangan, menghindari retribusi pengelolaan sampah, serta menormalisasi perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari telah meningkatkan kerentanan lingkungan terhadap genangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya berperan sebagai korban bencana, tetapi juga sebagai aktor penting dalam upaya pengurangan risiko. Temuan Nurcahyo dkk. (2022) memperkuat pandangan tersebut dengan menunjukkan bahwa pelibatan warga dalam mengidentifikasi dan memantau titik-titik rawan lingkungan dapat meningkatkan kepedulian serta rasa memiliki terhadap fasilitas publik.

BACA JUGA:  Hendra DS Minta PUD Pasar Pelajari Saran Gubsu Terkait Migor Curah

Mengacu pada Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1991), intervensi pemerintah perlu diarahkan pada faktor-faktor yang membentuk perilaku masyarakat secara langsung. Selain menyederhanakan sistem retribusi sampah agar lebih mudah diakses, pemerintah bersama pengurus RT/RW perlu mendorong terbentuknya norma sosial yang mendukung kebersihan lingkungan melalui pemantauan drainase, pelaporan titik tumpukan sampah, dan pemberian apresiasi bagi kawasan yang mampu menjaga kebersihan secara konsisten.

Di saat yang sama, penguatan mitigasi fisik seperti sistem peringatan dini, patroli lingkungan, dan pengawasan titik rawan pembuangan sampah perlu berjalan berdampingan dengan partisipasi aktif masyarakat melalui kelompok siaga bencana, pelaporan saluran drainase yang tersumbat, serta evaluasi lingkungan secara berkala. Pendekatan berbasis komunitas tersebut terbukti mampu memperkuat ketahanan wilayah terhadap ancaman bencana (Qurniawati & Nurohman, 2020; Sugiyana dkk., 2024).

Daftar Pustaka

Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179–211.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2026, 6 Juni). Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air. Diakses dari
https://bnpb.go.id/berita/perkembangan-situasi-dan-penanganan-bencana-di-tanah-air-6-juni-2026

Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. New York: General Learning Press.

Critchfield, T. S., & Kollins, S. H. (2001). Temporal discounting: Basic research and the analysis of socially important behavior. Journal of Applied Behavior Analysis, 34(1), 101–122.

Marzuki, S. F., & Pratama, M. R. (2025). Pembersihan Drainase Untuk Mencegah Banjir dan Penyakit Berbasis Lingkungan di Jalan Lomoriantang Kelurahan Antang Kecamatan Manggala Kota Makassar. Jurnal Pengabdian Masyarakat Konstruksi, 3(1), 128–131. https://doi.org/10.63877/jpmk.v3i1.142

Nurcahyo, M., Setyawan, A., & Ansori, T. (2022). Manajemen Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Komunitas: Community Based Disaster Risk Reduction Management. Journal of Community Development and Disaster Management, 4(2). https://doi.org/10.37680/jcd.v4i2.2071

Qurniawati, R. S., & Nurohman, Y. A. (2020). Theory of planned behavior dalam memprediksi perilaku mendaur ulang sampah. Benefit: Jurnal Manajemen dan Bisnis, 5(2), 118–132. https://journals.ums.ac.id/benefit/article/view/7851

Sugiyana, L. U. T., Hariyono, W., & Handayani, L. (2024). Pengurangan risiko bencana berbasis komunitas untuk meningkatkan ketahanan wilayah: Studi tinjauan pustaka. Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati, 9(2), 110–118. https://doi.org/10.35842/formil.v9i2.547

Yayasan SHEEP Indonesia. (2025). Bencana Hidrometeorologi Melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025. Diakses dari
https://www.sheepindonesia.org/id/aktivitas-program/133-emergency-response-sumatra/aktivitas/710-bencana-hidrometeorologi-melanda-aceh-sumatera-utara-dan-sumatera-barat-pada-november-2025

Zaskia, I., Ikbal, M., & Lukman. (2025). Faktor Yang Memengaruhi Perilaku Masyarakat Dalam Membuang Sampah Sembarangan Di Kelurahan Rappang. Jurnal Publikasi Manajemen Informatika, 4(3), 266–277. https://doi.org/10.55606/jupumi.v4i3.4164

(Foto: Vitaly Gariev)
https://www.pexels.com/id-id/foto/sampah-berserakan-di-tanah-berupa-botol-plastik-dan-kertas-36713134/

News Feed