Kerendahan Hati yang Menguatkan: Sulaiman Harahap dan Etika Kepemimpinan di Panggung Bedah Buku RE Nainggolan
Oleh Zulfikar Tanjung
Di tengah ruang pertemuan Kampus Universitas Prima Indonesia (UNPRI) Medan, Kamis (20/11/2025), suasana akademik dan kekhidmatan terjalin erat ketika Bedah Buku “Dr RE Nainggolan” karya Toga Nainggolan dibuka secara resmi oleh Pj Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Sulaiman Harahap, SH., M.SP., CGCAE.
Acara yang menghadirkan langsung tokoh birokrasi senior Dr RE Nainggolan serta para akademisi dan jurnalis ternama itu menjadi bukan hanya ajang diskusi literasi birokrasi, tetapi juga cermin nilai sikap dan etika kepemimpinan.
Sebelum menyampaikan pidato pembukaan, Sulaiman mengawali dengan pernyataan yang sederhana namun sarat makna.
Ia mengatakan tidak berani memberikan komentar, analisis, atau pandangan khusus terhadap isi buku maupun sosok RE Nainggolan, karena merasa dirinya “belum pantas” menilai seorang birokrat besar yang rekam jejaknya begitu panjang: dari pegawai golongan II B, Sekda Kabupaten, Bupati Tapanuli Utara, hingga puncak karir sebagai Sekdaprov Sumut.
“Saya merasa belum apa-apa dibandingkan beliau. Saya hanya akan menyampaikan pidato formal sebagai pejabat yang diberi tugas membuka acara ini,” ujarnya dengan nada merendah.
Pernyataan ini, bagi sebagian orang, mungkin terlihat sebagai bentuk kehati-hatian. Namun bagi mereka yang memahami etika birokrasi dan seni memimpin, sikap itu menunjukkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kerendahan hati.
*Etika Menghormati Senior*
Dalam tradisi birokrasi Indonesia, menghormati senior bukan sekadar tata krama; ia adalah fondasi moral yang menjaga wibawa institusi. Dengan tidak tergesa-gesa memberi analisis terhadap sosok sekelas RE Nainggolan, Sulaiman sesungguhnya mengirimkan pesan bahwa ia memahami etika jenjang karier, hierarki pengalaman, dan penghargaan terhadap pengabdian panjang seorang pendahulu.
Sikap ini bukan menempatkan dirinya “lebih kecil”, tetapi menempatkan dirinya pada posisi yang tepat.
*Kerendahan Hati sebagai Kecerdasan*
Justru dari pernyataan yang menahan diri itu, publik melihat kualitas lain pada Sulaiman: kematangan. Kerendahan hati bukan produk kelemahan, melainkan indikator kecerdasan emosional dan sosial. Ia menyadari bahwa panggung hari itu adalah panggung penghormatan terhadap perjalanan seorang birokrat senior.
Dalam dunia birokrasi yang kerap dipenuhi deklarasi kemampuan dan pencitraan pribadi, pilihan Sulaiman untuk tidak mengambil sorotan berlebihan justru memperlihatkan karakter seorang pemimpin yang pandai mengukur ruang, waktu, dan situasi.
Di balik kalimat “saya belum berani”, tersirat kemampuan seorang pejabat untuk mengelola diri, menjunjung etika, dan memperkuat nilai institusi.
*Meninggikan yang Lain, Meninggikan Diri Sendiri*
Menariknya, sikap rendah hati seperti ini tidak mengecilkan Sulaiman. Justru sebaliknya—ia memperkuat citra dirinya di mata publik. Nilai kepemimpinan yang lahir dari sikap menghormati senior akan selalu meninggalkan kesan mendalam, baik bagi masyarakat maupun bagi tokoh yang dihormati.
RE Nainggolan, tokoh yang dibedah bukunya, diyakini justru merasakan kehangatan dan penghargaan tulus dari sikap tersebut. Bagi senior, dihormati tanpa dilebihkan adalah bentuk penghormatan yang paling elegan.
*Pesan untuk ASN dan Generasi Muda*
Dalam pidatonya, Sulaiman tidak memberikan ulasan panjang, tetapi ia menyampaikan sesuatu yang lebih substansial: kebanggaan bahwa buku ini lahir sebagai rujukan bagi ASN muda, para mahasiswa, dan generasi penerus birokrasi Sumatera Utara.
Buku yang mengisahkan lima babak perjalanan hidup RE Nainggolan—mulai dari masa kecil, titik balik hidup, meniti tangga pengabdian, hingga kiprah purnabakti—menjadi cermin bahwa pengabdian tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari kesungguhan, disiplin, dan integritas yang teruji.
Dengan menyampaikan bahwa buku ini sangat bermanfaat bagi para calon pemimpin birokrasi, Sulaiman sebenarnya sedang memperkuat esensi acara: mengedepankan nilai, bukan sekadar figur.
*Relevansi Nilai bagi Masyarakat*
Apa yang dilakukan Sulaiman hari itu memberi pelajaran penting bagi publik:
bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang kedudukan, tetapi tentang sikap. Dan salah satu sikap yang paling mahal—namun paling jarang ditemui—adalah kerendahan hati yang autentik.
Dalam konteks pemerintahan daerah, pejabat yang rendah hati mampu meredam ego sektoral, membangun kerja sama, dan menjaga suasana koordinasi tetap harmonis. Masyarakat pada akhirnya merasakan manfaatnya melalui birokrasi yang lebih tenang, matang, dan stabil.
*Epilog*
Kehadiran Sulaiman Harahap dalam bedah buku RE Nainggolan tampak sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah nilai kepemimpinan muncul. Ketika pejabat mampu menempatkan diri dengan tepat, ia sedang membangun fondasi kepercayaan publik.
Kerendahan hati yang diperlihatkan Sulaiman bukan hanya penghormatan kepada senior, tetapi juga sinyal karakter seorang pemimpin yang berpotensi besar. Selebihnya, masyarakat akan melihat apakah kualitas itu akan terus tumbuh dan memberi manfaat lebih luas bagi Sumatera Utara.
Karena pada akhirnya, dalam dunia birokrasi, sikaplah yang membentuk martabat, dan martabatlah yang menentukan kualitas kepemimpinan (*Penulis bersertifikat wartawan utama Dewan Pers)*











