oleh

Menyelamatkan Barang atau Menyelamatkan Diri? Potret Kesiapsiagaan Keluarga Menghadapi Bencana

Oleh Eva Setyawati

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi akibat kondisi geografis, geologis, dan hidrometeorologinya. Berbagai bencana seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, hingga letusan gunung berapi terjadi secara berulang di berbagai wilayah dan memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat (Zainudin et al., 2025).

Kota Medan termasuk salah satu wilayah yang rentan terhadap bencana, terutama bencana hidrometeorologi seperti Banjir akibat curah hujan tinggi dan luapan sungai. Selain itu, risiko gempa bumi juga cukup tinggi karena letaknya yang berada di Pulau Sumatera dengan Jalur Patahan Semangko dan juga pertemuan lempeng di Samudra Hindia (BPBD Kota Medan, 2022). Kondisi ini membuat kesiapsiagaan masyarakat menjadi penting dalam upaya mengurangi risiko dan dampak bencana.

Dalam konteks kebencanaan, ketangguhan (resilience) dan kesiapsiagaan (preparedness) merupakan dua konsep yang saling berkaitan. Ketangguhan mengacu pada kemampuan individu maupun komunitas untuk mempersiapkan diri, merespons, dan pulih kembali setelah bencana terjadi. Sementara itu, kesiapsiagaan merujuk pada berbagai tindakan yang dilakukan sebelum bencana terjadi untuk mengurangi risiko dan dampaknya (Zainudin et al., 2025).

Sebagai unit sosial terkecil, keluarga memiliki peran penting dalam membangun ketangguhan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Upaya mitigasi di tingkat keluarga dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti menyiapkan perlengkapan darurat, menyusun rencana evakuasi, serta memastikan setiap anggota keluarga memahami peran yang perlu dilakukan saat terjadi situasi darurat (Karimiziarani & Moradkhani, 2023). Keluarga yang memiliki perencanaan, pengetahuan, dan sumber daya yang memadai cenderung lebih mampu mengurangi dampak fisik maupun psikologis yang ditimbulkan oleh bencana (Zainudin et al., 2025).

Namun, kesiapsiagaan masyarakat masih sering terbatas pada langkah-langkah praktis yang dibangun dari pengalaman sebelumnya. Pengetahuan mengenai jalur evakuasi, titik kumpul, perlengkapan darurat, maupun pelatihan kebencanaan belum dimiliki secara merata. Padahal, pengetahuan dan sikap terhadap risiko merupakan faktor penting yang memengaruhi kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana (Yahya & Saputra, 2025).

Memahami Kesiapsiagaan Bencana

Secara sederhana, kesiapsiagaan bencana dapat dipahami sebagai pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seseorang atau kelompok untuk mengantisipasi, merespons, dan pulih secara efektif ketika bencana terjadi. Kesiapsiagaan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga kebencanaan, tetapi juga organisasi, komunitas, hingga keluarga dan individu. Kesiapsiagaan yang baik berperan penting dalam meningkatkan efektivitas sistem peringatan dini sekaligus mengurangi kerugian akibat bencana (Osman & Altintas, 2023).

BACA JUGA:  Bobby Nasution Ajak PT Tokopedia Bantu Majukan Usaha Ibu-Ibu Nelayan dan Betor

Dalam konteks keluarga, kesiapsiagaan tidak hanya ditunjukkan melalui kepemilikan perlengkapan darurat. Lebih dari itu, kesiapsiagaan mencakup kemampuan anggota keluarga untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat saat menghadapi ancaman bencana. Keluarga yang siap siaga umumnya memiliki rencana evakuasi, mengetahui lokasi yang aman, memiliki perlengkapan darurat dasar, serta memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi (Amberson et al., 2024).

Kesiapsiagaan yang Dibangun dari Pengalaman

Hasil wawancara dengan tiga warga Kota Medan, yaitu NAK, KA, dan BYT, menunjukkan bahwa pengalaman menghadapi bencana menjadi sumber pembelajaran utama dalam membangun kesiapsiagaan keluarga.

Salah satu informan yang tinggal di wilayah yang hampir setiap tahun mengalami Banjir mengungkapkan bahwa keluarganya telah memiliki strategi khusus untuk mengurangi kerugian ketika Banjir datang. Barang-barang penting dan berharga dipindahkan ke lantai yang atas sebagai bentuk antisipasi terhadap kenaikan debit air.

Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman langsung dapat membentuk perilaku kesiapsiagaan yang adaptif. Melalui pengalaman, seseorang belajar mengenali risiko yang mungkin terjadi dan mengembangkan strategi perlindungan berdasarkan situasi yang pernah dialami. Tidak mengherankan jika pengalaman sering menjadi dasar utama dalam pengambilan keputusan saat bencana terjadi (Zainudin et al., 2025). Namun, kesiapsiagaan yang dibangun dari pengalaman sering kali hanya tertuju pada ancaman yang pernah dialami sebelumnya, sehingga belum tentu mencakup seluruh aspek yang diperlukan untuk menghadapi berbagai kemungkinan situasi darurat.

Menyelamatkan Barang atau Menyelamatkan Diri?

Salah satu temuan menarik dari wawancara adalah bahwa upaya kesiapsiagaan masyarakat masih banyak berorientasi pada penyelamatan barang berharga. NAK menjelaskan bahwa tindakan pertama yang dilakukan ketika Banjir mengancam adalah mengamankan dokumen penting dan barang-barang bernilai ekonomi agar tidak rusak atau hanyut.

Temuan ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan sering kali dipahami sebagai upaya untuk mengurangi kerugian material. Padahal, kesiapsiagaan yang ideal tidak hanya berfokus pada perlindungan aset, tetapi juga keselamatan jiwa, kesehatan, dan keberlangsungan fungsi keluarga selama masa darurat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang memiliki rencana evakuasi, perlengkapan darurat, dan strategi komunikasi keluarga cenderung memiliki tingkat kesiapsiagaan yang lebih baik dibandingkan keluarga yang hanya berfokus pada penyelamatan harta benda (Amberson et al., 2024).

BACA JUGA:  Hadirkan Beragam Konten untuk Pelanggan, IndiHome Resmi Jalin Kerja Sama dengan MNC Group

Evakuasi Mandiri sebagai Strategi Bertahan

Temuan lainnya menunjukkan bahwa masyarakat lebih banyak mengandalkan evakuasi mandiri ketika bencana terjadi. KA menjelaskan bahwa warga biasanya mengungsi ke masjid yang berada di lokasi lebih tinggi, rumah kerabat, atau tempat lain yang dianggap aman ketika Banjir melanda.

Strategi ini dilakukan karena sebagian masyarakat belum mengetahui jalur evakuasi resmi maupun titik kumpul yang telah ditetapkan. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Pak Basarin Yunus Tanjung, menjelaskan bahwa informasi kebencanaan memang disampaikan melalui lembaga penanggulangan bencana, namun ketersediaan jalur evakuasi dan titik kumpul masih belum merata di berbagai wilayah. Di beberapa lokasi, terutama kawasan perkantoran atau fasilitas publik tertentu, titik evakuasi telah tersedia. Akan tetapi, di banyak wilayah permukiman, informasi tersebut belum tersosialisasikan secara optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat masih lebih banyak mengandalkan jaringan sosial di sekitarnya dibandingkan sistem evakuasi formal yang tersedia.

Kesenjangan dalam Kesiapsiagaan

Meskipun berbagai bentuk kesiapsiagaan telah dilakukan secara mandiri, hasil wawancara menunjukkan masih adanya beberapa kesenjangan yang perlu mendapat perhatian.

KA mengaku belum pernah mengikuti pelatihan kesiapsiagaan bencana secara khusus. Selain itu, perlengkapan darurat yang tersedia di rumah juga masih terbatas dan belum dipersiapkan secara sistematis. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendidikan kebencanaan, simulasi evakuasi, dan pelatihan tanggap darurat dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. Edukasi dan latihan yang dilakukan secara berkala terbukti mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, serta kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan yang tepat saat menghadapi situasi darurat (Zainudin et al., 2025).

Temuan ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan keluarga masih cenderung bersifat reaktif dan berbasis pengalaman. Sementara itu, aspek kesiapsiagaan yang lebih terstruktur, seperti perencanaan evakuasi, pelatihan, dan penyediaan perlengkapan darurat, masih perlu diperkuat.

BACA JUGA:  Sidang Prapid APL Tele, Penasehat Hukum Pemohon Ajukan 18 Bukti tidak Sahnya Penetapan Tersangka

Membangun Keluarga yang Lebih Siap Menghadapi Bencana

Berdasarkan temuan wawancara dan berbagai kajian penelitian, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan keluarga dalam menghadapi bencana.

1. Menyelenggarakan pelatihan kesiapsiagaan bencana berbasis keluarga secara berkala.
Pelatihan dapat mencakup materi mengenai pengurangan risiko bencana, prosedur evakuasi, komunikasi saat keadaan darurat, serta penanganan kondisi darurat sederhana di rumah.

2. Melaksanakan simulasi evakuasi secara rutin di lingkungan masyarakat.
Simulasi yang dilakukan di tingkat RT, RW, atau komunitas warga dapat membantu masyarakat memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika bencana benar-benar terjadi, sehingga risiko kepanikan dapat diminimalkan.

3. Menyusun dan mensosialisasikan jalur evakuasi serta titik kumpul yang jelas.
Pemerintah daerah bersama masyarakat perlu memastikan bahwa informasi mengenai jalur evakuasi dan titik kumpul mudah diakses serta dipahami oleh seluruh warga.

4. Mendorong setiap keluarga memiliki perlengkapan darurat dasar.
Perlengkapan tersebut dapat berupa kotak P3K, senter, dokumen penting yang tersimpan dengan aman, persediaan makanan dan air minum darurat, serta alat komunikasi yang dapat digunakan saat keadaan darurat.

5. Memperkuat jejaring sosial dan solidaritas antarwarga.
Hubungan yang baik antaranggota masyarakat dapat menjadi sumber dukungan yang penting dalam proses evakuasi, penyelamatan, maupun pemulihan setelah bencana terjadi.

Penutup

Kesiapsiagaan keluarga merupakan fondasi penting dalam mengurangi dampak bencana. Hasil wawancara dengan warga Kota Medan menunjukkan bahwa pengalaman menghadapi bencana telah mendorong masyarakat mengembangkan berbagai strategi bertahan, mulai dari menyelamatkan barang berharga hingga melakukan evakuasi mandiri. Namun, kesiapsiagaan tersebut masih lebih banyak didasarkan pada pengalaman pribadi dibandingkan perencanaan yang sistematis.

Oleh karena itu, upaya peningkatan kesiapsiagaan tidak hanya perlu difokuskan pada penyediaan informasi, tetapi juga pada penguatan kapasitas keluarga melalui pelatihan, simulasi, penyediaan perlengkapan darurat, serta penguatan jejaring sosial masyarakat. Dengan demikian, keluarga tidak hanya mampu melindungi harta benda, tetapi juga lebih siap menjaga keselamatan seluruh anggota keluarga ketika bencana terjadi.

News Feed