Lima Tahun Farianda Putra Sinik Memimpin PWI Sumut: Antara Pendidikan, lProfesionalisme, dan Masa Depan Pers*
Oleh Ir Zulfikar Tanjung
Menjelang Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Utara yang dijadwalkan November 2026, perjalanan kepemimpinan Farianda Putra Sinik menarik dicermati. Lima tahun bukan waktu singkat untuk mengukur konsistensi seorang pemimpin organisasi profesi.
Sejak terpilih sebagai Ketua PWI Sumut periode 2021â2026 melalui konferensi pada 23 Oktober 2021, Farianda membawa gagasan menjadikan PWI sebagai rumah besar wartawan. Gagasan tersebut bukan sekadar slogan organisasi, melainkan tantangan untuk membangun kebersamaan sekaligus meningkatkan kualitas profesi wartawan.
Dalam konteks perkembangan industri media yang semakin kompleks, tantangan organisasi wartawan tidak lagi sebatas menjaga eksistensi kelembagaan.
PWI dituntut mampu mempersiapkan anggotanya menghadapi perubahan teknologi, persaingan informasi, serta tuntutan profesionalisme yang semakin tinggi.
Di sinilah salah satu aspek kepemimpinan Farianda patut mendapat perhatian, yakni penekanannya terhadap pendidikan dan peningkatan kompetensi wartawan.
Penyelenggaraan Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) untuk pertama kalinya di Sumatera Utara pada September 2024 menjadi salah satu catatan penting. Program tersebut membuka kesempatan bagi wartawan daerah memperoleh pendidikan jurnalistik yang lebih terstruktur tanpa harus meninggalkan Sumatera Utara.
Langkah ini memiliki makna strategis. Sebab, profesionalisme pers tidak cukup dibangun melalui pengalaman bertahun-tahun di lapangan. Wartawan juga membutuhkan penguatan pengetahuan, pemahaman etika, kemampuan analisis, serta keterampilan menghadapi perkembangan teknologi komunikasi.
Konsistensi tersebut terlihat melalui penyelenggaraan Uji Kompetensi Wartawan (UKW). PWI Sumut terus memberikan ruang bagi wartawan untuk meningkatkan kompetensi melalui jenjang Muda, Madya, dan Utama.
Penyelenggaraan UKW bersama Dewan Pers pada Oktober 2026, yang melibatkan 54 peserta, menjadi bagian dari upaya tersebut. Ini memperlihatkan bahwa pendidikan wartawan tetap menjadi agenda penting menjelang berakhirnya periode kepengurusan Farianda.
*(Adinegoro)*
Lebih jauh, orientasi peningkatan kualitas itu juga terlihat dari harapannya agar suatu saat wartawan Sumatera Utara mampu meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro. Harapan ini patut diapresiasi karena mengarahkan wartawan tidak hanya mengejar sertifikat kompetensi, tetapi juga menghasilkan karya jurnalistik bermutu.
Adinegoro bukan sekadar penghargaan. Ia merepresentasikan tuntutan terhadap kedalaman peliputan, ketajaman analisis, kekuatan fakta, serta keberanian menghadirkan kepentingan publik dalam pemberitaan.
Di bidang organisasi, Farianda juga memperlihatkan perhatian terhadap konsolidasi PWI hingga kabupaten dan kota. Penguatan kepengurusan daerah, kegiatan kebersamaan, serta Family Gathering menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan antarsesama anggota.
Bagi organisasi profesi, persaudaraan merupakan modal penting. Perbedaan pandangan dalam dunia jurnalistik maupun dinamika organisasi seharusnya tidak menghilangkan semangat kebersamaan.
Namun, kepemimpinan organisasi tentu tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh program memberikan manfaat yang semakin nyata bagi anggota, terutama dalam perlindungan profesi, peningkatan kesejahteraan, dan pendampingan ketika wartawan menghadapi persoalan hukum dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Inilah pekerjaan rumah yang perlu terus diperkuat oleh PWI Sumut, siapa pun yang kelak memimpin organisasi tersebut.
Menjelang konferensi, perhatian terhadap proses regenerasi juga menjadi penting. Farianda sendiri telah mengingatkan agar konferensi berlangsung demokratis, transparan, serta mengedepankan persaudaraan. Sikap demikian menjadi modal positif bagi keberlanjutan organisasi.
Konferensi seharusnya tidak menjadi arena pertentangan personal, tetapi ruang evaluasi, pertanggungjawaban, dan adu gagasan mengenai masa depan PWI Sumut.
Lima tahun kepemimpinan Farianda memberikan sejumlah catatan yang layak diapresiasi, terutama dalam penguatan pendidikan dan kompetensi wartawan. Tentu masih terdapat ruang pembenahan, tetapi upaya membangun tradisi peningkatan kualitas profesi merupakan fondasi penting bagi organisasi pers.
Sebagai organisasi wartawan, PWI Sumut membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya mampu menjaga soliditas internal, tetapi juga memperkuat martabat profesi di tengah masyarakat. Wartawan harus semakin kompeten, independen, berintegritas, dan mampu menjalankan fungsi kontrol sosial secara bertanggung jawab.
*(Profesionalisme)*
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kepemimpinan bukan semata-mata berapa banyak kegiatan yang diselenggarakan atau berapa lama seseorang menduduki jabatan.
Ukurannya adalah warisan kelembagaan, peningkatan kualitas anggota, dan kemampuan organisasi mempersiapkan masa depan.
Dalam kerangka itulah perjalanan lima tahun Farianda Putra Sinik memimpin PWI Sumut patut dicatat. Pendidikan, profesionalisme, dan persaudaraan merupakan modal yang perlu dipertahankan sekaligus dikembangkan.
Konferensi mendatang bukan hanya menentukan siapa yang akan memimpin PWI Sumut berikutnya, melainkan juga menentukan arah perjalanan organisasi wartawan terbesar di Indonesia ini di Sumatera Utara *(penulis bersertifikat wartawan utama dewan pers)*











