oleh

18 Hari Menjabat, Evan Botung Daulay Mulai Buktikan Harapan Bobby Nasution

18 Hari Menjabat, Evan Botung Daulay Mulai Buktikan Harapan Bobby Nasution

Oleh Ir Zulfikar Tanjung

Belum genap tiga pekan menjabat Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Utara, Evan Botung Daulay sudah berhadapan dengan salah satu pekerjaan paling sensitif dalam pemerintahan: menjaga harga pangan dan daya beli masyarakat.

Pada 6 Oktober 2026, Evan menyampaikan bahwa inflasi Sumut pada September berada di level 2,71 persen secara year on year. Angka itu menempatkan Sumut sebagai daerah dengan inflasi terendah keempat secara nasional. Posisi tersebut bahkan bertahan selama dua bulan terakhir.

Capaian itu tentu bukan hasil kerja seorang pejabat dalam hitungan 18 hari. Pengendalian inflasi merupakan kerja bersama pemerintah daerah, Bank Indonesia, BUMD, pelaku usaha, petani, distributor dan berbagai pemangku kepentingan.

BACA JUGA:  Akselerasi Transformasi Digital Berbasis Cloud, TelkomSigma Jalin Kerja sama dengan Avanade

Namun, angka tersebut menjadi menarik jika ditempatkan sebagai ujian awal bagi Evan Botung Daulay.

Ketika melantik Evan pada 18 September 2026, Gubernur Sumut Bobby Nasution telah memberikan mandat yang jelas. Biro Perekonomian harus mampu memperkuat kolaborasi dengan dunia industri, sektor pertanian dan perikanan serta BUMD. Indikator makro ekonomi juga harus menjadi perhatian.

Pesan itu kini menemukan bentuknya.

Evan tidak berbicara semata-mata tentang angka inflasi. Ia bicara tentang pasokan pangan, harga eceran tertinggi, kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah, intervensi pasar dan peran BUMD pangan.

Inilah wajah birokrasi ekonomi yang seharusnya dibangun: tidak berhenti di meja rapat, tetapi bergerak ketika harga dan pasokan mulai bergejolak.

BACA JUGA:  Ini Tanggal Debat Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan

Pengendalian inflasi membutuhkan kecepatan membaca keadaan. Ketika pasokan terancam terganggu, pemerintah harus siap bergerak. Ketika harga mulai meningkat, intervensi harus dilakukan. Dan ketika masyarakat berpenghasilan rendah tertekan, kebijakan harus mampu memberi perlindungan.

Di sinilah pentingnya kolaborasi yang terus ditekankan Bobby Nasution.

Biro Perekonomian tidak mungkin bekerja sendirian. Pemerintah daerah membutuhkan BUMD yang sehat dan responsif, dunia usaha yang bergerak, sektor produksi yang kuat serta distribusi pangan yang lancar.

Karena itu, tantangan Evan sesungguhnya jauh lebih besar daripada mempertahankan angka inflasi 2,71 persen.

Tantangannya adalah memastikan angka itu terasa manfaatnya di pasar dan di dapur masyarakat.

Petani harus mendapatkan harga yang layak. Pedagang membutuhkan kepastian pasokan. Dunia usaha memerlukan iklim ekonomi yang sehat. Sementara masyarakat mengharapkan harga kebutuhan pokok tetap terjangkau.

BACA JUGA:  KPU Medan Gelar Simulasi Pemungutan dan Penghitungan Suara

Jika seluruh mata rantai itu dapat bergerak dalam satu orkestrasi kebijakan, maka harapan Bobby Nasution kepada Biro Perekonomian bukan sekadar target administratif.

Ia menjadi kerja nyata.

Delapan belas hari memang terlalu singkat untuk menilai keberhasilan seorang pejabat. Tetapi cukup untuk melihat arah dan keberanian memulai.

Evan Botung Daulay kini memiliki ruang untuk membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan bagian dari ikhtiar memperkuat ekonomi Sumut dari hal yang paling dekat dengan rakyat: pangan, harga dan daya beli. Dan pekerjaan itu baru saja dimulai.*(penulis bersertifikat wartawan utama dewan pers)*

News Feed