oleh

Bukan Sekadar Penghargaan, Begini Cara Telkom Siapkan Pemimpin Digital Masa Depan

Oleh Ir Zulfikar Tanjung

Di era transformasi digital, ukuran kekuatan sebuah perusahaan tidak lagi semata-mata ditentukan oleh besarnya aset, megahnya gedung perkantoran, atau luasnya jaringan bisnis yang dimiliki. Yang kini menjadi pembeda justru kualitas manusianya.

Di tengah persaingan global yang semakin ketat, perusahaan hanya akan mampu bertahan jika memiliki sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi perubahan yang berlangsung begitu cepat.

Fenomena tersebut sedang terjadi hampir di seluruh dunia. Perusahaan-perusahaan besar kini berlomba bukan hanya menghadirkan teknologi terbaru, melainkan juga membangun ekosistem pembelajaran yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru.

Sebab, secanggih apa pun teknologi yang dimiliki, semuanya tetap bergantung pada manusia yang mengelolanya.

Di Indonesia, kebutuhan akan talenta digital juga terus meningkat seiring percepatan transformasi ekonomi berbasis teknologi.

Digitalisasi telah merambah hampir seluruh sektor, mulai dari layanan publik, perbankan, telekomunikasi, pendidikan, kesehatan, hingga industri kreatif. Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap tenaga kerja yang memiliki kompetensi digital tidak lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Dalam konteks itulah, penghargaan yang diterima PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk pada ajang Lestari Award 2026 sesungguhnya menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah trofi.

BACA JUGA:  Perdana se-Sumatra Utara, Agincourt Resources Prakarsai Sertifikasi 30 Penyuluh Pertanian di Tapanuli Selatan

Penghargaan pada kategori Talent Management melalui program People Development Plan bukan hanya menjadi pengakuan atas keberhasilan sebuah perusahaan mengelola sumber daya manusia, tetapi juga mencerminkan perubahan paradigma bahwa investasi terbesar sebuah korporasi saat ini adalah investasi kepada manusianya.

(Investasi Terbesar)

Selama iini pembahasan mengenai keberlanjutan perusahaan atau Environmental, Social, and Governance (ESG) sering kali identik dengan isu lingkungan, pengurangan emisi karbon, atau penggunaan energi ramah lingkungan.

Padahal, salah satu pilar terpenting dalam konsep keberlanjutan justru berada pada aspek sosial, yakni bagaimana perusahaan membangun manusia di dalamnya agar mampu tumbuh bersama perubahan zaman.

Melalui People Development Plan, Telkom membangun sebuah ekosistem pengembangan talenta yang tidak berhenti pada pelatihan formal.

Program tersebut dirancang mencakup penguatan kompetensi, coaching, mentoring, experiential learning, riset, inovasi, pemanfaatan platform pembelajaran digital, hingga proses asesmen untuk memastikan setiap insan perusahaan memiliki kesiapan menghadapi tantangan bisnis masa depan.

Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya manusia tidak lagi dipandang sebagai aktivitas administratif yang sekadar memenuhi kewajiban perusahaan. Sebaliknya, ia telah menjadi strategi bisnis yang menentukan arah pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang.

BACA JUGA:  Pemprov Sumut Terus Dorong Kekayaan Intelektual Segera Didaftarkan ke Kemenkumham

Pernyataan Direktur Human Capital Management Telkom, Willy Saelan, memperlihatkan filosofi tersebut. Baginya, organisasi yang siap menghadapi masa depan harus dimulai dengan memberikan ruang kepada setiap insan perusahaan untuk terus belajar, berkembang, dan berkontribusi menciptakan nilai bagi bisnis.

Pandangan ini sejalan dengan perubahan lanskap dunia kerja yang menuntut kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning), karena kompetensi yang relevan hari ini belum tentu masih memadai lima tahun mendatang.

Lebih jauh lagi, langkah Telkom juga menjadi cerminan bagaimana perusahaan-perusahaan nasional mulai mempersiapkan diri menghadapi bonus demografi dan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Bonus demografi hanya akan menjadi peluang apabila angkatan kerja Indonesia dibekali keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan. Tanpa investasi serius pada pengembangan manusia, bonus tersebut justru dapat berubah menjadi beban.

Karena itu, pengembangan talenta digital tidak boleh dipahami sebagai kepentingan internal perusahaan semata.

Ia merupakan bagian dari pembangunan daya saing bangsa. Setiap perusahaan yang berhasil melahirkan pemimpin digital sesungguhnya turut memperkuat fondasi ekonomi nasional.

(Membangun Manusia)

Tidak mengherankan apabila penghargaan Lestari Award 2026 kemudian menjadi lebih bermakna. Pengakuan tersebut bukan sekadar penghormatan atas sebuah program pengembangan SDM, melainkan apresiasi terhadap keberanian sebuah perusahaan menjadikan manusia sebagai pusat transformasi.

BACA JUGA:  Kuasa Hukum Bocorkan Motif Pembunuhan Brigadir J, Oh Ternyata

Dalam dunia bisnis modern, teknologi memang mampu dibeli, perangkat dapat diperbarui, bahkan model bisnis bisa diubah dalam waktu singkat. Namun membangun budaya belajar, melahirkan pemimpin yang visioner, serta menumbuhkan karakter adaptif di dalam organisasi merupakan proses panjang yang tidak dapat dilakukan secara instan.

Di sinilah letak nilai strategis People Development Plan Telkom. Program ini menunjukkan bahwa keberlanjutan perusahaan tidak hanya dibangun melalui inovasi produk dan layanan, tetapi juga melalui investasi yang konsisten pada manusia sebagai penggerak utama perubahan.

Pada akhirnya, penghargaan hanyalah sebuah penanda perjalanan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana komitmen tersebut terus dijaga sehingga mampu melahirkan generasi pemimpin digital yang tidak hanya membawa Telkom tetap kompetitif di tengah disrupsi teknologi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi digital Indonesia.

Sebab, di tengah perubahan yang bergerak begitu cepat, masa depan tidak hanya dimiliki oleh perusahaan yang menguasai teknologi. Masa depan akan menjadi milik mereka yang mampu membangun manusia untuk menguasai teknologi. (penulis bersetifikat wartawan utama Dewan Pers)

News Feed