Di Pusaran Tiga Kepentingan: Farah dan Pertaruhan Narasi Besar Bobby Nasution di PRSU Emas
Oleh Ir Zulfikar Tanjung
Memasuki hari ke-20 penyelenggaraan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50, satu kenyataan mulai tampak jelas.
Dua pertiga perjalanan telah dilalui, sementara sepertiga sisanya akan menjadi fase paling menentukan. Penilaian akhir tentu belum saatnya diberikan.
Parameter keberhasilan sebuah event sebesar PRSU baru layak disimpulkan setelah seluruh rangkaian kegiatan berakhir dan dievaluasi secara utuh.
Namun justru pada fase inilah peran komunikasi publik mencapai titik paling strategis.
Dalam sebuah agenda transformasi sebesar PRSU ke-50, komunikasi bukan lagi sekadar menyampaikan informasi.
Ia menjadi ruang yang mempertemukan fakta di lapangan, ekspektasi masyarakat, arah kebijakan pemerintah, kepentingan penyelenggara, hingga dinamika opini yang berkembang setiap hari di media massa maupun media sosial.
Di simpul itulah Farah, yang mengemban fungsi kehumasan PRSU dari PT Royalindo Expoduta selaku event organizer, menjalankan perannya.
Posisi tersebut tidak sederhana. Di satu sisi, ia harus mengomunikasikan dinamika penyelenggaraan kepada masyarakat secara terbuka.
Di sisi lain, ia berkoordinasi dengan PT Pembangunan Prasarana Sumatera Utara (Perseroda) sebagai penyelenggara utama.
Pada saat yang sama, seluruh proses itu berlangsung dalam bingkai visi besar Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, yang sejak awal mencanangkan PRSU ke-50 sebagai fondasi transformasi menuju trade fair modern yang mampu menjadi etalase perdagangan, investasi, budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan promosi daerah bertaraf nasional.
*(Dinamika Dinamis)*
Selama dua puluh hari terakhir, berbagai dinamika mewarnai perjalanan PRSU.
Mulai dari perbincangan mengenai harga tiket, jam operasional, kualitas pelayanan, aktivitas paviliun, parkir, hingga berbagai tanggapan mengenai konsep baru penyelenggaraan.
Di era digital, setiap peristiwa hampir selalu melahirkan opini yang bergerak cepat dan membentuk persepsi publik.
Dalam situasi seperti itu, komunikasi publik dituntut hadir bukan sekadar sebagai penyampai informasi, melainkan sebagai penyaji penjelasan yang utuh, konsisten, dan berbasis fakta.
Sejauh ini, berbagai penjelasan resmi mengenai arah transformasi PRSU, konsep penyelenggaraan tanpa APBD, alasan kebijakan tertentu, hingga berbagai respons atas aspirasi masyarakat relatif terus disampaikan kepada publik.
Hal itu menunjukkan bahwa komunikasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tata kelola sebuah event berskala besar.
Namun memasuki sepuluh hari terakhir, tantangannya akan jauh berbeda.
Apabila pada awal penyelenggaraan komunikasi lebih banyak berfokus menjelaskan konsep dan merespons berbagai pertanyaan publik, maka kini masyarakat menunggu sesuatu yang lebih substantif, yakni hasil.
Berapa capaian jumlah pengunjung hingga penutupan nanti? Seberapa besar transaksi ekonomi yang berhasil diciptakan? Bagaimana kontribusi terhadap pelaku UMKM? Sejauh mana paviliun kabupaten/kota benar-benar menjadi etalase promosi daerah? Apakah wajah baru PRSU mulai memperlihatkan fondasi menuju trade fair sebagaimana dicita-citakan?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menjadi ukuran publik.
Di sinilah komunikasi publik memasuki babak baru. Narasi yang dibangun tidak cukup hanya menjelaskan visi. Ia harus mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam data, capaian, dan indikator yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab pada akhirnya, komunikasi yang baik akan memperoleh legitimasi apabila berjalan seiring dengan kualitas pelaksanaan di lapangan.
*(Peran Farah)*
Karena itu, peran Farah pada sepuluh hari terakhir tidak dapat dipandang ringan.
Ia bukan hanya menyampaikan perkembangan kegiatan, tetapi ikut menjaga agar publik memperoleh gambaran yang utuh mengenai proses transformasi yang sedang berlangsung. Sebuah tugas yang menuntut ketelitian, konsistensi, kecepatan, dan kemampuan membangun kepercayaan melalui informasi yang akurat.
Pada saat yang sama, tugas tersebut tentu tidak berdiri sendiri. Komunikasi publik hanya akan kuat apabila ditopang oleh penyelenggaraan yang semakin baik.
Di sinilah sinergi antara PT PPSU sebagai penyelenggara, event organizer sebagai pelaksana operasional, serta seluruh pemangku kepentingan menjadi sangat penting.
Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya akan mengingat siapa yang menjelaskan PRSU dengan baik.
Yang akan dikenang adalah apakah PRSU ke-50 benar-benar berhasil meletakkan fondasi transformasi menuju sebuah trade fair modern sebagaimana visi besar yang dicanangkan Gubernur Bobby Nasution.
Sepuluh hari terakhir inilah saat pembuktian itu dimulai. Bukan hanya bagi penyelenggara, tetapi juga bagi seluruh elemen yang mengawal perjalanan PRSU.
Komunikasi publik akan tetap menjadi jembatan yang penting, namun jembatan itu harus berpijak pada fondasi yang kokoh: fakta, capaian, dan keberhasilan yang dapat dirasakan masyarakat.
Apabila fondasi itu berhasil dibangun hingga hari penutupan, maka PRSU ke-50 bukan hanya akan dikenang sebagai pesta ulang tahun emas sebuah pekan raya.
Ia akan tercatat sebagai momentum awal perubahan wajah Sumatera Utara menuju panggung perdagangan, investasi, budaya, dan ekonomi kreatif yang lebih modern dan berdaya saing. Itulah ukuran sesungguhnya dari narasi besar yang kini sedang diuji di hadapan publik. (*penulis bersertifikat wartawan utama dewan pers)*











