oleh

Mendalami Julukan “Cobra” Muhammad Edison Ginting: Filosofi Pers yang Disegani karena Integritas

Mendalami Julukan “Cobra” Muhammad Edison Ginting: Filosofi Pers yang Disegani karena Integritas

Oleh Ir Zulfikar Tanjung

Julukan dalam dunia sosial maupun profesi sering lahir bukan sekadar sebagai panggilan biasa, melainkan representasi karakter, watak, dan cara seseorang menempatkan dirinya di tengah lingkungan.

Dalam dunia pers, julukan bahkan kerap menjadi simbol dari reputasi panjang yang dibangun melalui konsistensi, keberanian, integritas, dan keteguhan menjaga marwah profesi.

Itulah sebabnya, ketika kalangan wartawan dan berbagai elemen di Kota Medan menyebut nama Muhammad Edison Ginting dengan julukan “Cobra”, publik tidak semestinya memaknainya secara dangkal sebagai simbol keras atau menakutkan.

Julukan itu justru mengandung filosofi mendalam tentang bagaimana seorang wartawan harus hadir: tajam membaca persoalan, tenang dalam bersikap, berani menyampaikan fakta, namun tetap terkendali oleh etika dan tanggung jawab moral.

Muhammad Edison Ginting bukan sosok baru dalam dunia jurnalistik Sumatera Utara. Wartawan senior Harian Waspada sejak 2003 itu telah melewati berbagai fase dinamika pers, mulai dari era transisi media cetak menuju digital, perubahan lanskap politik lokal, hingga berkembangnya tantangan informasi yang semakin kompleks di tengah masyarakat.

BACA JUGA:  Bupati dan DPRD Karo Sepakat Perubahan 31 Rencana Program Pembentukan Perda 2021

Pengalaman panjang itu membentuk karakter jurnalistik yang matang: kritis, tetapi tidak bising; tegas, tetapi tidak liar.

Kepercayaan yang kembali diberikan kepadanya untuk keempat kalinya memimpin Persatuan Wartawan Pemko Medan (PWPM), yang telah dilantik Wali Kota Medan Rico Waas pada 7 Mei 2026, menjadi penanda bahwa integritas dan konsistensi masih menjadi nilai penting di tengah kehidupan pers saat ini.

Jabatan itu bukan sekadar posisi organisasi, melainkan amanah moral untuk menjaga hubungan sehat antara pers dan pemerintah tanpa kehilangan independensi.

(*Makna Cobra)*

Di sinilah makna “Cobra” menemukan relevansinya dan menjadi menarik untuk kita dalami dan analisis secara lebih tajam dan objektif.

Dalam banyak simbol dan filosofi kehidupan, ular kobra dikenal bukan sebagai makhluk yang menyerang tanpa alasan.

Ia tenang, penuh perhitungan, memiliki naluri kewaspadaan tinggi, dan hanya menunjukkan ketegasannya ketika keadaan menuntut. Filosofi itu sangat dekat dengan hakikat pers profesional.

Pers sejati tidak bekerja untuk menciptakan kegaduhan. Wartawan profesional tidak menjadikan kritik sebagai alat permusuhan. Namun ketika terdapat persoalan yang menyangkut kepentingan publik, penyimpangan kebijakan, atau hal-hal yang berpotensi merugikan masyarakat, pers harus tampil dengan keberanian moral dan ketegasan yang tidak bisa ditawar.

BACA JUGA:  I’tikaf di Masjid Agung Medan Khusyuk Penuh Religius

Karakter seperti itulah yang selama ini dilekatkan banyak kalangan kepada Nuhammad Edison Ginting.

Di bawah kepemimpinannya, wartawan yang bertugas di lingkungan Pemerintah Kota Medan diarahkan bukan menjadi sekadar penyampai informasi seremonial, melainkan juga menjadi pilar kontrol sosial yang objektif, rasional, dan bertanggung jawab.

Kritik yang dibangun bukan kritik emosional, bukan pula kritik yang lahir dari asumsi atau sentimen pribadi, melainkan kritik berbasis data, fakta, konfirmasi, dan kepentingan publik.

Karena itu, keberadaan pers semacam ini sejatinya bukan ancaman bagi pemerintahan, melainkan kebutuhan penting dalam tata kelola modern.

Pemerintah yang sehat bukan pemerintah yang anti kritik, tetapi pemerintahan yang mampu menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki diri.

*(Konteks Medan)*

Dalam konteks Kota Medan yang terus bergerak membangun diri sebagai kota metropolitan, keberadaan pers yang profesional dan berintegritas menjadi sangat strategis.

Pemerintah membutuhkan media yang mampu menyampaikan keberhasilan pembangunan secara objektif kepada masyarakat, tetapi pada saat yang sama juga membutuhkan pers yang berani mengingatkan ketika terdapat kekeliruan arah kebijakan.

BACA JUGA:  Polres Sibolga Amankan Penjual Togel

Maka, filosofi “Cobra” sesungguhnya bukan tentang menakut-nakuti kekuasaan. Ia adalah simbol kewaspadaan moral.

Simbol bahwa pers tetap berdiri tegak menjaga kepentingan masyarakat, tanpa harus kehilangan etika dan kehormatan profesinya.

Sebab pers yang disegani bukanlah pers yang gemar memfitnah atau menciptakan sensasi.

Pers yang benar-benar dihormati adalah pers yang setiap beritanya dapat dipertanggungjawabkan, setiap kritiknya memiliki dasar yang kuat, dan setiap sikapnya berpijak pada kepentingan publik.

Dalam posisi itu, Muhammad Edison Ginting tampaknya berhasil membangun citra bahwa wartawan tidak harus keras untuk dihormati, tidak harus gaduh untuk didengar, dan tidak harus menyerang untuk memiliki pengaruh.

Ketegasan yang dibangun melalui integritas justru melahirkan kewibawaan tersendiri.

Dan mungkin di situlah makna paling dalam dari julukan “Cobra” itu: pers yang tenang, tetapi tidak pernah lengah; santun, tetapi tetap tajam; serta setia menjaga marwah jurnalistik demi kepentingan masyarakat dan masa depan Kota Medan. *( penulis bersertifikat wartawan utama dewan pers)*

News Feed