Menyimak Keprihatinan Syaiful Syafri : Tinjauan Editorial Strategis
Editorial Koran Mimbar Umum Medan terbitan Senin 23 Desember 2024 mengupas pernyataan dari pemerhati sosial yang layak disikapi secara arif. Berikut kutipan editorial dimaksud :
Menyimak Keprihatinan Syaiful Syafri
Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) sejatinya menjadi momentum untuk memperkuat semangat gotong royong, kebersamaan, dan persatuan dalam menangani persoalan sosial.
Namun, keprihatinan yang disampaikan oleh Drs. Syaiful Syafri, mantan Kepala Dinas Sosial Sumut, terhadap minimnya gebyar peringatan HKSN di Sumatera Utara patut menjadi bahan refleksi.
Dalam pernyataannya, Syaiful menyoroti bahwa peringatan HKSN di Sumut belakangan ini hanya sebatas kunjungan ke panti sosial atau perayaan di gedung, tanpa ada upaya berarti untuk menggerakkan partisipasi masyarakat maupun dunia usaha.
Hal ini menunjukkan lemahnya pemahaman dan kompetensi para pemimpin yang seharusnya menjadi motor penggerak kegiatan sosial di daerah.
Keprihatinan ini relevan, terutama jika kita melihat keberhasilan daerah lain, seperti Sleman di Jawa Tengah, yang memanfaatkan HKSN sebagai platform untuk program nyata seperti pemberian beasiswa, pemberdayaan sosial bagi penyandang disabilitas, dan pembangunan Jaring Pengaman Sosial (JPS).
Semangat ini mencerminkan visi besar pemerintah pusat yang menargetkan kemiskinan ekstrem 0% pada 2026.
Namun, tantangan yang dihadapi Sumut tidak semata soal anggaran.
Syaiful dengan tegas menyebutkan bahwa inisiatif dan kemauan pemimpinlah yang menjadi kunci. Kemampuan untuk menggandeng perguruan tinggi, alumni jurusan kesejahteraan sosial, serta masyarakat luas sangat diperlukan.
Ironisnya, menurut Syaiful, para calon pekerja sosial dari perguruan tinggi di Sumut belum menunjukkan keterpanggilan untuk berkontribusi dalam membangun semangat kesetiakawanan sosial.
Di tengah keterbatasan ini, patut diapresiasi keberadaan komunitas seperti Komunitas Sedekah Jumat (KSJ) yang secara konsisten menjalankan aksi sosial sejak 2018.
Dengan dukungan tokoh-tokoh seperti Saharuddin dan mantan Wagub Sumut Musa Rajekshah, KSJ telah membuktikan bahwa kolaborasi dan partisipasi masyarakat bisa menjadi solusi nyata.
Refleksi dari keprihatinan ini seharusnya menjadi cambuk bagi pemerintah daerah dan masyarakat Sumut untuk lebih serius memaknai HKSN.
Semangat gotong royong dan kesetiakawanan sosial tidak boleh hanya menjadi jargon.
Pemimpin daerah, perguruan tinggi, dan komunitas harus bersinergi agar momentum seperti HKSN benar-benar memberikan dampak signifikan bagi penurunan kemiskinan ekstrem dan permasalahan sosial lainnya. *











