oleh

SATU PRANGKO DIPAKAI TIGA NEGARA (Mozaik Kemerdekaan Indonesia Disaksikan Gubsu di Gedung Juang 45)

Ketua Bidang Pembudayaan Nilai Kejuangan DHD45 Sumut yang juga Sejarawan UNIMED Ichwan Azhari M.Phil dihadapan Gubsu Edy Rahmayadi dan Ketua DPRD Sumut Baskami Ginting manyatakan bahwa saat itu, prangko berfungsi seperti pulsa atau paket data saat ini, untuk berkomunikasi, menyebarkan informasi ke seluruh penjuru dunia.

Sewaktu Jepang menduduki Indonesia, mereka tidak membawa prangko. Lalu mereka duduki kantor pos Belanda, mereka sita prangko Belanda, lalu mereka pakai dengan mencoret wajah raja dan ratu Belanda. Lalu mereka bubuhi cap/stempel aksara Jepang, yang hanya orang Jepang yang tahu artinya.

Dalam keadaan darurat itu, Jepang memproklamirkan bahwa rezim Belanda berakhir diganti Jepang, termasuk penggunaan simbol komunikasi dunia saat itu : prangko.
Prangko Belanda dicoret dan distempel Jepang memperlihatkan satu jenis prangko dipakai dua negara.

Saat Indonesia merdeka, hal yang sama terjadi. Prangko Belanda yang distempel Jepang itu direbut pejuang dari kantor pos Jepang, di sita dan di stempel Rep.Indonesia. Pertanda Belanda dan juga Jepang berakhir, diganti Indonesia negara baru, diproklamasikan di atas sebuah prangko. Jadinya, satu prangko menjadi simbol dan identitas tiga negara, dipakai untuk berkirim dokumen dan surat ke seluruh dunia.

BACA JUGA:  Sri Mulyani Ungkap Hal Besar Mengancam Ekonomi RI

Prangko tiga negara ini merupakan prangko langka yang diperebutkan kolektor filatelis dari tiga negara (Belanda, Jepang, Indonesia)

Selama 77 tahun mozaik kemerdekaan ini terlupakan. Dalam malam renungan kemerdekaan RI yang digagas DHD 45 Sumut, tanggal 16 Agustus 2022 di Gedung Juang45, prangko ini dalam bentuk asli ditampilkan tampilkan, sebagai bagian dari renungan kemerdekaan RI yang mengesankan. Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi, ketua DPRD Sumatera Utara Baskari Ginting, sangat terkesan melihat warisan sejarah itu dan meminta kepada DHD45 Sumut dan sejarawan Ichwan Azhari untuk merawatnya.
” saya mendukung Gedung Juang 45 ini direnovasi dan dijadikan tempat museum sejarah seperti prangko dan uang perjuangan republik yang ditampilkan tadi” ujar mantan Pangkostrad ini didampingi
Ketua UmumDHD 45 Sumut Mayjen TNI Purn M Hasyim dan Sekretaris Umum Dr. Eddy Syofian M.AP yang menyaksikan prangko asli tiga negara yang langka itu.

BACA JUGA:  KPK Eksekusi Mantan Walikota Tanjungbalai, Karutan Medan: Terpidana Jalani Isolasi

Ketua Umum DHD45 Sumut menyatakan tak lama lagi prangko ini akan menjadi koleksi Museum Juang 45 Sumut yang kini dalam proses revitalisasi **.

News Feed