Ismail Hasibuan, pengawas proyek bendungan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai Sumatera II, melalui selularnya kepada media membenarkan adanya anggaran proyek yang direfocusing akibat pandemi Covid19.
Dari sekitar 257 miliar rupiah yang dianggarkan, ada sekitar 80 miliar rupiah yang direfokusing. Salah satunya pembangunan jaringan atau saluran irigasi primer,” kata Ismail , Senin (22/3).
Saluran irigasi primer tersebut adalah jaringan saluran dari pintu bendungan menuju areal persawahan masyarakat, pungkas Ismail Hasibuan, seraya memastikan proyek bangunan bendungan dan tanggul jaringan dari sungai menuju bendungan tetap berlanjut.
Tonggor Panggabean, Humas pelaksana proyek dari KSO Hutama Karya Runggu Prima Jaya, ditemui di lokasi proyek mengatakan tidak mengetahui adanya refocusing anggaran, saat ini pihaknya masih fokus mengerjakan proyek utama ,pembangunan bendungan dan tanggul.
Dijelaskannya, proyek bendungan Batang Toru dikerjakan dengan kucuran anggaran tahun berjalan (multiyears) dari Kementerian PUPR dimulai dari tahun 2018 hingga 2021 yang diharapkan mengaliri areal persawahan seluas 3200 hektar yang tersebar di Kecamatan Purba Tua, Pahae Jae dan Simangumban.
Diterangkan, bendungan memiliki dua pintu saluran air, pintu kanan untuk saluran ke areal persawahan di Purba Tua dengan luas areal 2100 hektar. Sementara pintu kiri, untuk mengaliri persawahan di Kecamatan Pahae Jae dan Simangumban dengan luas areal sasaran 1100 hektar.
saat ini pihaknya belum mengerjakan saluran irigasi primer, yakni saluran pembangunan air dari pintu bendungan menuju areal persawahan,akunya.
Ia rinci, saluran irigasi primer sebelah kanan sepanjang 1.5 kilometer sementara sebelah kiri sepanjang 2.5 kilometer. Terkait pembebasan tanah sudah selesai dibayarkan kepada masyarakat pemilik lahan,tidak ada masalah.
Tokoh masyarakat setempat, Rio Panggabean, saat dikonfirmasi terkait kondisi proyek berharap pemerintah membatalkan refokusing anggaran yang dimaksud. “Warga Pahae sangat membutuhkan bendungan itu,” tegas Rio yang pernah duduk sebagai anggota dewan di Taput.
Dulu ribuan areal persawahan ada di kawasan Kecamatan Purba Tua. Namun, sejak tahun 1980 permukaan air sungai Batang Toru yang mereka kenal dengan nama Aek Godang mulai menurun hingga tidak mampu lagi mengaliri areal persawahan,cerita Rio Penggabean.
Akibatnya, ribuan hektar kondisinya sudah tidak dimanfaatkan atau terlantar, yang bertahan hanya berharap air hujan. Jaringan irigasi teknis yang ada cakupan luasan distribusi air sangat terbatas,sebut Rio.
“Saat ini, areal yang tersisa sekitar 200 hektar yang tersebar di Desa Parsaoran, Janji Angkola da Sitoli Bahal. Bila selesai dikerjakan, bendungan akan membuka kembali dua ribuan hektar areal sawah yang sudah mati,” masih sebutnya.
Menurut Rio, pemerintah pusat tidak perlu ragu untuk melanjutkan proyek tersebut, sebab secara ekonomis proyek bendungan memiliki prospek dengan capaian hasil yang sangat tinggi.
Tujuan awal pembangunan bendungan boleh dipastikan di daerah Purba Tua akan terbuka areal seluas 2100 hektar. Kalkulasinya jelas Rio Panggabean, produksi panen padi sawah untuk satu hektar mencapai 5 ton dikalikan dengan 2100 hektar areal hasilnya 10.500 ton permusim tanam.
“Musim tanam di Purba Tua dua kali dalam setahun, artinya Kecamatan Purba Tua akan menghasilkan 2100 ton padi dalam setahun. Bila dinilai dengan rupiah, 1 kilogram padi dengan harga Rp. 5000 dikalikan 2100 ton hasilnya adalah 105 miliar rupiah akan dicapai masyarakat Purba Tua dalam setahun.
Justru itu Rio Panggabean berharap sangat, recofusing anggaran untuk pembangunan saluran jangan dilakukan. (MN)












Komentar