MEDAN – Alhamdulillah Bank Syariah Indonesia (BSI) Region 2 Medan kini dinakhodai tokoh “jam terbang tinggi” yang sudah 20 tahun berkarier di perbankan, yaitu Kemas Erwan Husainy selaku Regional Chief Executive Officer (RCEO) BSI Region 2 Medan.
Beliau meneruskan kiprah RCEO Region 2 Medan sebelumnya yaitu Wisnu Sunandar yang saat ini bertugas di BSI Region 1 Aceh, yang juga cukup dikenal di Sumut terutama keberhasilannya saat penggabungan 3 bank syariah milik negara, BNI Syariah, BRI Syariah dan Bank Syariah Mandiri, merger menjadi satu, namanya Bank Syairah Indonesia (BSI).
Sedangkan Kemas Erwan Husainy sebelum ini menjabat RCEO BSI Region XI Makassar di mana beliau juga dikenal berhasil di daerah itu terutama pada waktu migrasi 3 bank syariah milik negara menjadi BSI.
Sekilas mengenali figur Kemas Erwan Husainy dapat dipaparkan dengan mengutip tribun-timur.com. Di sini tergambar sekilas perjalanan langkah beliau 20 tahun berkarier di perbankan, tips bertahan hingga prinsip.
Ternyata dari laman ini tergambar perjalanan Kemas menapaki jalan panjang selaku mahasiswa teknik yang kemudian menjadi bankir.
Berikut petikan wawancara jurnalis Tribun Timur yang dimuat di media tersebut dengan Kemas Erwan Husainy (foto – rep tribun-timur) :
Kuliah Teknik di Universitas Sriwijaya, memang dulu cita-citanya jadi Bankir ?
Sebenarnya begini, kalau cita cita kecil itu, dulu pasti umumnya kalau gak jadi dokter yah insinyur. Jadi dulu cita citanya dua itu.
Tapi dulu memang sempat terbersit untuk kerja di bank, jadi ceritanya itu waktu SMP saya pernah mengikuti perlombaan cerdas cermat, di kota asal saya Palembang antar sekolah.
Alhamdulillah menang, dan hadianya itu dapat tabungan (bank), setelah itu kita disuruh membuka tabungan di salah satu bank pemerintah, yang saat ini sudah menjadi bank mandiri.
Saya masih kecil, masih kelas tiga SMP, setelah kesana saya lihat kesana, terbersit enak yah kerja di bank, nyaman yah orangnya rapi, ruangannya dingin.
Mungkin juga karena doa orang tua, ibu saya mempunyai doa jika anaknya ingin anaknya kerja di bank.
Pas saya sudah ujian meja, ada pembukaan ini, dan angkatan kami mendaftar, dan saya dinyatakan lolos, satu orang pria dan satu perempuan.
Dan setelah bekerja, ternyata saya jatuh cinta dengan pekerjaan ini, sampai sekarang saya sudah 20 tahun di bank.
Kenapa memilih bertahan sebagai bankir ?
Karena apa yah, ketika belum wisuda, sudah dinyatakan diterima, bekerja di bank, saya enjoy di pekerjaan itu. Menikmati segala tantangan kerja di bank.
Akhirnya saya tidak terpikir lagi untuk bekerja di bidang saya (teknik).
Tapi ada korelasinya sih, anak teknik itu dari segi sisi pelajaran matematika, kalau kita jadi analis di perbankan, itu ada kaitannya juga di hitungan matematikanya lah.
Yah setidaknya ada korelasinya sedikitlah antara kuliah di teknik dengan pekerjaan di bank. Intinya itu tadilah, saya memiih fokus di pekerjaan ini.
Waktu kuliah apakah bapak sambil kerja atau bagaimana ?
– Saya begini, dulu orang tua saya itu mengharapkan saya masuk jalur PMDK, jadi nilai rata rata raport bagus nanti ada jalur undangan di PTN.
Cuma saya waktu SMA ikut beberapa organisasi, berbeda waktu SMP dan SD.
Saya banyak mendapat pengalaman, tapi secara target nilai saya, tidak tercapai. Makanya saya saat kuliah, saya berjanji sama orang tua, kuliah saya mau fokus belajar untuk tamat cepat dan tepat waktu.
Pada saat Pak Erwan lulus kan itu baru krismon, di orde baru, itu bagaimana memulai karier di dunia perbankan ?
– Saya masuk awal kerja itu tahun 1997, itu krisis sudah mulai. Pas terjadinya reformasi, saya sudah kerja memang cukup menjdi tantangan, saya berpindah pindah, dan bank saya bekerja mengalami merger itu di tahun 1999 – 2000.
Memang di situ cukup berat, seleksi alam terjadi, siapa yang bisa serius, bisa fokus, karena banyak bank dilikuidasi, dan pegawai yang diberhentikan.
Ada ribuan pegawai yang diberhentikan.
Apa tipsnya untuk bertahan ?
– Dari sisi pribadi kita harus tujuan dan memang semangat belajarnya tidak boleh berhenti, kita jangan pernah berpuas diri yang kita terima sekarang, itu tidak bisa.
Bahkan saya barusan ikut ujian sertifikasi, sebagai syarat untuk duduk di posisi saya sekarang.
Jadi begitu, proses pembelajaran itu tidak boleh berhenti, bahkan saya sebagai CEO masih harus ada asessment, ada ujian kompetensi, seperti itu.
Artinya kita harus punya goals, dan tujuan itu harus kita capai dengan ikhtiar, seperti belajar, bekerja dan tetap fokus.
Pak Erwan bagaimana cara mendidik anak perempuan, apalagi semua anaknya perempuan ?
– Saya punya anak perempuan tiga, salah satu sunnah Rasul itu, jika punya anak perempuan dan dirawat dengan baik, Insya Allah bisa berkumpul bersama di Jannah-Nya Allah SWT.
Jadi challenge juga bagi saya untuk mendidik anak perempuan, kalau saya programnya tarik ulur lah.
Karena anak milenial sekarang itu terlalu kencang juga tidak bisa, terlalu pelan juga tidak bisa.
Kalau saya mengajarkan anak-anak saya untuk terbuka, apapun kondisi dan permasalahannya, jangan menceritakan ke orang lain, selain orang tuanya.
Kami bangun seperti itu, harus terbuka kepada orang tuanya. Pola-pola komunikasinya juga sekarang susah-susah gampang.
Di rumah itu ada aturan, karena kan sekarang kita hampir tidak bisa lepas dari gadget yah, jadi kita atur jika saat makan malam, sarapan pagi, atau liburan, kita menyampaikan untuk tidak memegang gadget.
Ada pertanyaan dari Wahyuhidayat, awal karier perbankan Pak Erwan ini CS atau Teller dulu?
– Saya itu di awal, costumer service. Saya merintis kerja di bank itu benar-benar dari awal, dari basic lah.
Saya seringkali menyampaikan, jika kemampuan kita melayani harus dimiliki lah oleh kita pegawai bank.
Apa Prinsipnya dalam memimpin sebuah perbankan ?
– Untuk prinsipnya itu adalah keterbukaan, saya pingin semuanya dibangun dengan prinsip keterbukaan itu.
Jadi semuanya dibangun dengan prinsip keterbukaan itu, sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik.
Dengan prinsip itu, apa apa yang menjadk harapan kami, itu bisa digali, mudah-mudahan dengan saling terbuka, saling evaluasi diri, problem solvingnya bisa segera diatasi.
Bagaimana cara menjaga kekompakan antara karyawan dan atasan ?
– Alhamdulillah saya juga merasakan begini, membangun tim itu tidak bisa dibangun dalam sehari, dengan adanya keterbukaan, saya juga bisa mengenal teman-teman.
Saat ini saya dalam proses mengenal tahap kedua. Sekarang saya berusaha mengenal lebih dalam lagi.
Saya membangunnya dengan hal-hal sederhana, seperti dengan sapaan, mulai dari Subuh dan sentuhan-sentuhan sederhana seperti ucapan selamat ulang tahun, saya ucapkan langsung.
Itu saya lakukan di semua cabang.
Apa kendalanya selama berkarier 2 dekade ?
– Kalau kendala itu, biasanya kondisi, kita di perbankan itu pasti ketemu yang namanya target, tidak ada pegawai bank itu yang lolos dari target.
Dan dari target itu tidak pernah berkurang setiap tahunnya, pasti bertambah. Dan itu bukan kendala, tapi tantangan.
Cuma kendalanya kadang-kadang dalam memenuhi target banyak aspek, karena kita tidak bekerja sendiri, harus dengan tim.
Kondisi-kondisi itukan biasanya masalahnya, kondisi internal-eksternal, dan kondisi pasar. Apalagi kemarin kita masuk kondisi pandemi. Dan itu kendalanya memenuhi target.
Tentunya ada beberapa hal yang perlu kita lakukan, sesuatu yang lebih baik. Itu untuk menyiasatinya tadi, kita harus banyak belajar.
Saya selalu menekankan ke teman-teman, kita lakukan sekarang tidak bisa kita pakai untuk besom atau masa depan.
Misalnya, jika tahun 2020 kita terbaik, dan pola yang kita pakai di tahun itu, kita tidak bisa pakai lagi di tahun 2021, karena kondisinya pasti berbeda.
Jadi selalu ada new strategi ?
– Iya betul, jadi kita harus selalu inovatif, Insy Allah kalau kita punya cara baru yah pasti hasilnya juga akan baik.
Siapa panutannya Pak Erwan ?
– Panutan sih ada, salah satu hobi saya selalu membaca buku biografi orang orang sukses, namun kita sebagai orang Muslim panutan kita tentunya Rasulullah SAW, saya banyak baca bukunya seperti Sirah Nabawiyah, cara kepemimpinan beliau, sangat menginspirasi bagi saya.
Dari kecil saya memang suka membaca autobiografi dari orang sukses, dan saya selalu ambil buah-buah pemikirannya mereka saya ambil, dan saya selalu yakin itulah yang membentuk leadership saya.
Terakhir pak, apa target selanjutnya secara pribadi ?
– Target pribadi, dari dulu saya selalu punya target pribadi, kalau target pekerjaan saya selalu melangkah selangkah demi selangkah, saya tidak pernah memiliki mimpi terlalu jauh, selalu satu langkah ke depan.
Misalnya dari jenjang kariri, sebelum jadi CEO saya Area Manager, sebelumnya lagi kepala cabang. Jadi itu saja yang saya mimpikan.
Biasanya saya menchallenge atasan, misalnya saya tanya sama atasan kalau saya mau jadi manager syaratnya apa yah? Dan begitu juga waktu jadi KCP. Yah intinya melangkah selangkah demi selangkah lah.
Sehingga saya bisa fokus, dalam menjalankan amanah yang sedang diberikan. (01/intipos)












Komentar