oleh

PSIK UIN Sumut Kupas Integrasi Keterampilan Abad 21 dalam Komunikasi dan Industri Media

PSIK UIN Sumut Kupas Integrasi Keterampilan Abad 21 dalam Komunikasi dan Industri Media

Medan – Program Studi Ilmu Komunikasi (PSIK) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut) menggelar forum diskusi kelompok terarah (FGD) bertajuk “Integrasi Keterampilan Abad 21 dalam Studi Komunikasi di Universitas Islam Indonesia dan Industri Media”, Kamis (25/8).

Forum ini menghadirkan sejumlah pakar akademik dan praktisi media untuk merumuskan arah pengembangan kurikulum, riset, sekaligus tantangan jurnalis dan konten kreator di era kecerdasan buatan (AI) dan algoritma media sosial.

Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi, Dr. Indira Patria, MA, membuka diskusi dengan menegaskan pentingnya membekali mahasiswa dengan 4C keterampilan abad 21: critical thinking, creativity, collaboration, dan communication, ditambah literasi digital, literasi data, serta etika global.

BACA JUGA:  Kadis Pendidikan Sumut Kunjungi SMKN Jateng ‘Full Boarding’ Gratis yang Diapresiasi Presiden Jokowi

“Mahasiswa komunikasi harus bisa menguasai teori sekaligus praktik, dari jurnalistik online hingga produksi konten digital yang beretika,” ujarnya.

Sebagai narasumber, Dr. Farhan, MA, peneliti dan Sekretaris MUI Langkat, menyoroti tantangan etika media Islam di tengah derasnya arus algoritma.

Menurutnya, jurnalis dan komunikator Muslim perlu hadir menjaga kebenaran dan tanggung jawab sosial di ruang publik digital.

BACA JUGA:  Bobby Nasution Ikuti Rakor Evaluasi PPKM dan Penyerapan Anggaran Penanganan Covid-19 se-Sumut

Sementara itu, Dr. Abdul Rasyid, peneliti dan dosen senior, menilai integrasi riset komunikasi dengan industri mutlak dilakukan.

“Disrupsi digital menuntut kampus untuk melahirkan riset aplikatif, mulai dari literasi data hingga pemetaan dampak AI terhadap perilaku media masyarakat,” katanya.

Praktisi pers sekaligus Penasihat PWI Sumut, Ir. Zulfikar Tanjung, menegaskan posisi jurnalis tidak boleh kalah cepat dari konten kreator.

“Bedanya, jurnalis punya basis etika dan verifikasi. AI sebaiknya diposisikan sebagai konsultan, bukan pengganti. Dengan begitu, media tetap relevan,” tegasnya.

Diskusi yang diikuti puluhan mahasiswa dan dosen itu berkembang interaktif. Mahasiswa mempertanyakan peran kurikulum komunikasi dalam menyiapkan lulusan yang mampu bersaing dengan konten kreator independen.

BACA JUGA:  Brimob Polda Sumut Sterilkan Lokasi Latsitardanus 2021 di Binjai

Para narasumber menegaskan, solusi ada pada sinergi kampus dan industri media: magang, kolaborasi riset, kelas industri, hingga pembentukan inkubator media digital berbasis nilai Islam.

FGD ini menegaskan bahwa integrasi keterampilan abad 21 dalam studi komunikasi di universitas Islam bukan hanya menyiapkan lulusan yang kompetitif di industri media global, tetapi juga mencetak komunikator yang berintegritas, kritis, kreatif, dan membawa misi peradaban Islam yang rahmatan lil alamin.

News Feed