oleh

5 Desa dari 2 Kabupaten di Aceh Terancam DAS Krueng Baru

Pasalnya, pengambilan material Galian C dengan menggunakan alat berat berupa beko (excavator), diduga kian marak beroperasi di bantaran sungai yang dikenal berarus ganas itu. Sehingga, beberapa warga setempat meminta pihak berwenang untuk meninjau izin lokasi atau quarry pengambilan material agar tidak mengakibatkan bencana Banjir ke pemukiman warga.

Laporan yang diterima wartawan, ada sekitar lima desa yang terancam arus ganas Krueng Baru, masing-masing Desa Geulanggang Batee, Desa Kuta Paya dan Desa Ujung Tanah, Kecamatan Lembah Sabil, Kabupaten Abdya. Sementara dari Kabupaten Aceh Selatan, bakal mengancam kawasan Desa Suak Lokan dan Desa Pulo Ie, Kecamatan Labuhan Haji Barat.

Amatan Wartawan di lokasi Selasa (22/12), sejumlah beko, sedang beroperasi di bantaran Krueng Baru, tepatnya di dekat tanggul batu gajah sebagai pengaman tebing kawasan Desa Suak Lokan, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan.

BACA JUGA:  Padahal Ortu Masih Hidup, Pria Ini Ngamuk Minta Warisan, Dasar Anak Durhaka

Alat berat itu, mengeruk pasir dan kerikil yang dimuat ke dalam puluhan truk untuk material sejumlah proyek di berbagai titik. Dimana, galian C itu diduga telah melanggar batas quarry (wilayah galian), yang bakal menciptakan erosi dengan sasarannya puluhan hektar areal perkebunan produktif milik penduduk, yang berada di sepanjang DAS Krueng Baru kawasan Desa Suak Lokan dan Desa Pulo Ie, Kecamatan Labuhan Haji Barat.

“Padahal, perkebunan produktif ini, merupakan sumber kami mencari nafkah, untuk biaya hidup sehari-hari. Jika rusak akibat arus air, maka apa yang bisa kami dapatkan lagi,” kata salah seorang warga pemilik kebun, yang enggan namanya ditulis.

Selain itu, pengerukan material galian C yang diduga tidak mengacu pada aturannya, juga mengeruk di daerah-daerah rawan dan terlarang, sejumlah titik tanggul batu gajah pengaman tebing yang dibangun pemerintah miliaran rupiah pada masa itu, mulai rusak dan berjatuhan.

BACA JUGA:  Tiga Pasangan Komplotan Becak Hantu Diciduk Polisi

“Jika ini tidak segera ditertibkan, bisa dipastikan tanggul ini akan rusak dan arus akan masuk ke pemukiman warga. Akhirnya desa kami akan terkena imbasnya,” tutur warga itu.

Imbas dari galian C itu juga. Dimana, belokan terjangan arus dari sisa galian, menerjang tanggul batu gajah pengaman tebing, yang berada di kawasan Desa Gelanggang Batee, Kecamatan Lembah Sabil. Akibatnya, di beberapa titik bangunan tanggul yang dibangun tahun 2017 lalu, dengan anggaran sekitar Rp 5 miliar lebih, saat ini mulai ambruk dan berserakan ke dalam sungai.

“Jika tanggul ini ambruk, dipastikan Banjir bandang yang pernah menjadi mimpi buruk kami tahun 2000 lalu, akan terulang kembali. Karena arusnya sudah bebas tanpa hambatan lagi,” ujar Syaf, salah seorang warga di Desa Ujung Tanah, Kecamatan Lembah Sabil.

Pihaknya berharap, pengusaha-pengusaha galian C itu, dapat menggunakan nuraninya, agar tidak menjadikan masyarakat sebagai korban dari kegiatan yang mereka lakukan.

BACA JUGA:  Turun ke Sibadak, Bupati Taput Tanggapi Keluhan Dari Rumah Bedah Hingga Infrastruktur

“Masyarakat juga butuh hidup tenang, tanpa bencana. Jadi, jangan hanya memikirkan kepentingan diri, tanpa peduli dengan nasib orang banyak. Kepada pihak berwenang, kami mohon segeralah bertindak dalam menertibkan, demi kepentingan bersama,” pintanya.

Bahkan, Syaf sedikit mengulang kisah kejadian Banjir pada tahun 2000 itu. Dimana banyak rumah warga yang rusak bahkan puluhan hektare sawah berubah menjadi daratan kering setelah dihantam air termasuk tempat pemakaman umum (TPU) juga rusak dihantam air dari Krueng Baru.

“Tapi saat ini masyarakat di desa yang terken imbas Banjir pada mada itu telah bangkit kembali dan menata hidup lebih baik. Jika galian C terus beroperasi tanpa dengan ketertiban yang baik, maka bisa saja Banjir itu datang lagi,” demikian tandasnya. (ZAL)

Komentar

News Feed