oleh

Ketua KTNA Rasmi Ritonga Akui Harga Karet di Pahae Merangkak Naik

Pahae – realitasonline.id | Petani karet wilayah Pahae Taput bernasib baik lumayan bagus, terpicu harga jual karet merangkak naik.

Harga beli karet dengan kualitas kering dan bersih dengan tingkat persentase 52 persen  mencapai  Rp 20.000 hingga Rp. 21.000 per kilogram, Sementara kualitas bibawah 52 persen (berair dan belum bersih) langsung dari petani dengan harga Rp. 8000 sampai Rp 9000,- perkilo.

Kenaikan harga ini sudah berlangsung dalam sebulan terakhir. Sebelumnya kualitas berair dan kotor atau dibawah 52 persen dijual hanya dirata-rata Rp 4000 perkilo dan kualitas bersih dan kering hanya harga 6000 sampai Rp. 7000 per kg.

BACA JUGA:  Suami Terdakwa ITE Akhirnya Penuhi Panggilan JPU Kejati Sumut tapi Dikuatirkan Berbelit

Ketua KTNA  ( Kelompok Tani Nelayan Andalan)  Tapanuli Utara (Taput), Rasmi Ritonga ketika dipertanyakan Realitasonline, Rabu, (24/2) ,membenarkan kenaikan harga jual karet .

“Benar, harga jual karet sebulan terakhir naik menjadi 8000 hingga 9000 kualitas berair dan kotor langaung dibeli para toke (penampung)  dari petani. Khusus dengan kualitas kering dan bersih diatas 52 persen naik mencapai Rp. 21.000,-/kg”,aku Rasmi.

BACA JUGA:  Dzikir dan Doa Bersama dalam Rangka Hari Jadi Asahan ke-75

Ketua KTNA Taput, Rasmi Ritonga yang tinggal di Simangumban wilayah Pahae Taput yang memiliki lahan karet seluas 30 Ha tidak menampik dengan kenaikan harga tersebut sangat membantu petani karet.

25 anggota Kelompok Tani Losung Aek Simangumban ,kata Rasmi dimana ia ikut bergabung sebagian mengusahai kebun karet.

Ketua KTNA Taput ini tidak menampik dan menjadi realitasla akibat harga karet yang selama beberapa tahun anjlok, banyak pemilik karet menebang pohon karetnya mengganti dengan tanaman pisang barangan.

BACA JUGA:  Qomaru Zaman Resmikan Backpacker Teater

Bila jauh sebelum diwilayah Pahae  tanaman karet mencapai 300 hektare oleh harga yang tak menentu bahkan anjlok hingga 4000 perkilogram, petani melakukan penebangan dan menggantinya dengan tanaman pisang barangan, belakangan tinggal mencapai 150 hektar yang diusahai,sebut Rasmi.

Ditemui di Tarutung, Ketua KNTA Taput itu, tidak menyangkal setelah kenaikan harga jual karet ada ada saja yang merasa menyesal penebang tanaman karetnya yang telah diusahai puluhan tahun. (MN/FM)

Komentar

News Feed