MEDAN- realitasonline.id | Kader Partai Demokrat Julinar Sinaga SSos mendukung penuh langkah Bareskrim Polri yang menetapkan 6 anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) yang tewas secara misterius sebagai tersangka.
Julinar Sinaga setuju agar 6 laskar FPI yang tewas secara misterius itu yang ditetapkan sebagai tersangka digelar peradilannya secara in absentia atau tanpa kehadiran fisik apalagi dengan peradilan via zoom seperti yang tengah trending saat ini.
“Meski ini terlihat unik, namun kenyataannya memang negeri ini dipenuhi oleh keunikan. Bukankah baru kali ini kita tahu ada keputusan pemerintah yang dianulir dengan satu kata “belum saya baca” padahal sudah dibubuhi tanda tangan? Dan banyak lagi yang lain?,” tanya Julinar heran saat dihubungi wartawan, Minggu (7/3/2021).
Julinar pun memberikan fakta di lapangan terkait keunikan lain seperti adanya UU Omnibus Law yang lahir tergesa-gesa diputuskan di saat negeri ini sibuk menangani pandemi covid-19.
“Keunikan lain, tidak ada sanksi hukum apalagi politis terhadap pihak yang mencoba merubah Pancasila menjadi Trisila atau Ekasila. Padahal ini sudah sangat pantas disebut kudeta konstitusi,” tandasnya.
Terkait prihal yang terjadi pada KLB Partai Demokrat pada Jumat (5/3/2021) di Hotel The Hill Sibolangit Deliserdang Sumatra Utara, Dia menilai itu merupakan keunikan misterius.
“Siapa yang mengeluarkan KTA pada Moeldoko dan kapan ia menjadi anggota Partai Demokrat? Apakah cukup rekomendasi dari salah satu atau salah dua orang para pendiri Partai Demokrat ia bisa mudah menjadi Ketum DPP Partai Demokrat? Ini bukan cara politik yang santun sebagaimana dipesan oleh SBY – – sang mascot Partai Demokrat, “pungkasnya. (AH)












Komentar