oleh

Petani Paya Laot Abdya Menderita, Padi Kerap Terendam Luapan Air

Umur tanaman padi disawah petani itu, rata-rata baru satu minggu hingga dua minggu. Namun saat hujan deras terjadi, air dari saluran melimpah dan menggenangi tanaman padi layaknya seperti danau ditengah persawahan.

“Kalau hujan deras terus melanda, sawah kami ini seperti danau yang seolah-olah tidak ada tanaman satupun tumbuh disana. Padahal, dalam petakan sawah terdapat tanaman padi yang menjadi sumber kehidupan para petani disini,” kata Sandiman, Rabu (30/12) saat dijumpai wartawan.

Para petani setempat kuatir dengan perkembangan tanaman padi mereka yang seakan makin memburuk dan mudah terserang hama. Bahkan dengan terendamnya batang padi yang masih balia itu justru bisa saja proses anakan tidak maksimal dan mudah mati.

BACA JUGA:  Gandeng Indomaret dan SGM, Pemko Medan Serahkan Bantuan Puluhan Laptop dan WiFi Gratis

“Fenomena alam layaknya danau di areal persawahan Paya Laot ini sudah sering terjadi. Bahkan masyarakat yang melintasi jalan Nasional Linstas Sumatra juga tidak asing lagi saat melihat pemandangan yang begitu menakjubkan padahal penderitaan bagi kami (petani),” tutur Zulkifli petani lainnya dilokasi yang sama.

Menurutnya, penyebab utama dari masalah itu, karena saluran mulai dangkal dan tebalnya sendimen dibawah gorong-gorong saluran air tepatnya dibawah jalan Nasional Lintas Sumatra.

BACA JUGA:  Polisi akan Tegur Konvoi Takbiran Keliling

“Kami tidak tau persis gorong-gorong jenis apa yang dibangun pemerintah dulu. Sabab, air terkadang mudah sekali terhambat hingga meluap ke areal persawahan kami ini. Kalaulah dibangun lebih tinggi dan dalam, bisa jadi tidak akan seperti ini,” tutur Zulkifli.

Delema yang dirasakan petani Paya Laot itu, tambahnya, terus menerus dan akan selalu terjadi pada setiap memasuki masa tanam dan ketika hujan deras melanda kawasan setempat. Tidak sedikit petani yang berkurang penghasilan karena tanaman padi mereka sering terendam air.

“Sedihnya lagi, kalau sudah mendekati masa panen. Padi yang terendam air tidak bisa langsung dipanen baik menggunakan mesin pemotong atau memakai jasa tukang potong. Bahkan dulu pernah, petani di Paya Laot menggunakan ban dalam mobil yang dibuat layaknya rakit untuk mengangkut ubinan karena terendam. Belum lagi, petani juga harus menjemur ubinan itu agar bisa dirontokkan dengan mesin,” sebutnya.

BACA JUGA:  Sindikat Perampok Ditembak Jahtanras Polrestabes Medan

Untuk itu, mereka berharap pemerintah bisa segera mencari solusi agar areal persawahan Paya Laot ini tidak menjadi sasaran luapan air lagi ketika musim penghujan. “Semoga keluh kesah kami ini bisa didengar oleh pemerintah,” demikian tandasnya. (ZAL)

Komentar

News Feed