oleh

Kisah Pilu Enam Bersaudara Berjuang Sesuap Nasi Dimasa Pandemi Covid-19

MEDAN – Kisah pilu dimasa pandemi Covid-19 ini, harus ditanggung Cantika Cian Patrecia Rajagukguk (18) sendiri, demi kelima adiknya. Gadis belia asal Cinta Damai Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan Sumatera Utara, menceritakan kisah tersebut kepada media.

Dan mirisnya, enam bersaudara itu kadang harus menahan rasa lapar sampai seharian karena tak makan. Dengan berat hati, tapi harus lapang dada menerima kenyataan ketidakmampuan ekonomi keluarga. Sebab orangtuanya cuma supir cadangan angkutan.

Kata gadis periang itu mengungkapkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka dalam kisah pilu dimasa pandemi covid-19, dirinya terpaksa bekerja buruh kasar apa adanya. Dan ini menjadi kisah pilu dimasa pendemi dikehidupan mereka

Berlinang Air Mata Ceritakan Kisah Pilu Dimasa Covid-19

Mereka tak segan menceritakan kisah pilu dimasa pendemi mereka. Sebab bantuan sembako pandemi Covid-19 dari Pemerintah Kota Medan, beras 20 kilogram hanya mampu untuk kebutuhan dua bulan saja. Selainnya berharap bantuan warga sekitar, itupun jika ada yang berbaik hati.

BACA JUGA:  Bupati dan Ketua TP PKK Ny Henny Hadiri Sholat Idul Adha Bersama Warga, Teguhkan Keteladanan Pemimpin yang Merakyat

Berlinang air mata, Patrecia Rajagukguk didampingi Cindy Meisya Putri Rajagukguk (16) bercerita soal kondisi yang mereka alami sehingga harus putus sekolah ditinggkat SMP. Bahkan adik-adiknya juga putus sekolah, seperti teman sebaya mereka.

Walau, cita-citanya kelak ingin jadi seorang dokter, agar kiranya bisa menolong banyak orang. Kini harapannya kandas. Tapi gadis murah senyum itu belum putus asa, berharap kebaikan pemerintah.

“Kami sebenarnya ingin sekolah, tapi kondisi ekonomi orangtua kami tidak mampu. Adik saya, Cindy Meisya Putri, dengan relah putus sekolah biar kami gantian mengurus adik kami yang masih balita,” katanya menceritakan kisah pilu dimasaa pendemi yang menimpa mereka, sambil menahan kucuran air mata kepada wartawan, Jumat (4/9/2020) sekira pukul 14:00 WIB.

BACA JUGA:  Pemkab Lampung Utara Laksanakan Vaksinasi Perdana Covid-19

Putri pertama dari pasangan, Berkat Rajagukguk dan Rosmeri Sitindaon, mengungkapkan sejak tamat SMP Swasta Teladan tiga tahun lalu, harapannya menimbah ilmu, bekal masa depannya kandas, sama seperti adiknya Cindy Meisya Putri, pupus ditelan garis kemiskinan. Apa lagi kisah pilu mereka ini dimasa pandemi ini.

Kisah Pilu Dimasa Pandemi Enam Bersaudara Ingin Sekolah Lagi

“Seandainya ada kesempatan saya ingin sekolah lagi, tapi apa daya kami. Memang banyak program pemerintah untuk membantu masyarakat kurang mampu tapi seolah jauh dari nasib kami. Nawacita itu belum nyata bagi kami,” sebutnya, sambil sesekali dipeluk Cinta Kasih adiknya paling bungsu, yang  terus menceritakan nasib mereka alami.

BACA JUGA:  Menko PMK Launching Media Siberindo.co

Hal sama juga disampaikan Cindy Meisya Putri Rajagukguk(16) mengenang masa remajanya, dihabiskan berjuang bersama kakaknya menanggung beban berat. Itulah kisah pilu dimasa pandemi yang kami alami. Menggantikan peran kedua orangtua mereka. Ditambah lagi rumah dinding tepas bambu tempat mereka tinggal itu, jauh dari kata layak dan ini benar menjadi kisah pilu bagi mereka.

“Kami harus berjuang kuat. Kalau soal niat sekolah itu masih. Kami sedih tak bisa seperti teman sebaya. Apa mau dikata lagi, mudah mudahan pemerintah mempertimbangkan nasib kami kedepan, “ucap Cindy Meisya merasa optimis.

Sementara Ketua Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera (YPPS) Uba Pasaribu mengatakan Pemerintah Pusat telah mengambil kebijakan,…Baca Selanjutnya di www.topmetro.news

Komentar

News Feed