oleh

Ketika Filosofi “Cobra” Bertemu Visi Rico Waas: Membangun Kemitraan Pers Sehat dan Mencerdaskan

Ketika Filosofi “Cobra” Bertemu Visi Rico Waas: Membangun Kemitraan Pers Sehat dan Mencerdaskan

Julukan sering kali lahir dari perjalanan panjang seseorang. Ia bukan sekadar panggilan, melainkan representasi karakter yang dibentuk oleh pengalaman, konsistensi, dan kepercayaan publik. Demikian pula julukan “Cobra” yang melekat pada Ketua Persatuan Wartawan Pemko Medan (PWPM), Muhammad Edison Ginting.

Julukan itu bukan semata menggambarkan ketegasan, tetapi juga melambangkan kewaspadaan, ketelitian, dan keberanian yang tetap berada dalam koridor etika jurnalistik.

Makna itu menjadi semakin menarik ketika dipertemukan dengan pandangan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat menerima audiensi jajaran PWPM. Rico tidak meminta pers menjadi corong pemerintah.

Sebaliknya, ia mengajak wartawan menghadirkan informasi yang benar, sehat, akurat, serta mampu memberikan solusi bagi masyarakat. Pernyataan ini mencerminkan cara pandang yang menempatkan pers sebagai mitra strategis dalam membangun ruang publik yang cerdas.

Pertemuan dua gagasan tersebut sesungguhnya menghadirkan sebuah pesan penting.

Filosofi “Cobra” dan visi Rico Waas sama-sama bertumpu pada satu prinsip: informasi yang berkualitas adalah fondasi pemerintahan yang sehat.

BACA JUGA:  Pasangan Gay Terjaring Razia di Wisma SMR, Ada yang Dibawah Umur

Dalam dunia jurnalistik, ketajaman tidak identik dengan kegaduhan. Kritik tidak identik dengan permusuhan. Sebaliknya, karya jurnalistik yang baik lahir dari proses verifikasi, keberimbangan, analisis, dan tanggung jawab kepada publik.

Pers tidak hanya berkewajiban menyampaikan apa yang terjadi, tetapi juga membantu masyarakat memahami mengapa sesuatu terjadi, bagaimana dampaknya, dan solusi apa yang dapat dipertimbangkan.

Di sinilah relevansi filosofi “Cobra”. Seekor kobra tidak bergerak tanpa perhitungan. Ia mengamati, membaca situasi, dan bertindak secara terukur.

Analogi ini sejalan dengan karakter jurnalisme profesional yang tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, tidak membangun opini berdasarkan prasangka, dan tidak menjadikan sensasi sebagai tujuan utama.

Dalam konteks Kota Medan yang terus berkembang sebagai kota metropolitan, pendekatan seperti ini menjadi semakin penting. Pemerintah memerlukan kritik yang jujur agar mampu melakukan evaluasi, sementara masyarakat membutuhkan informasi yang utuh agar dapat menilai kebijakan secara objektif.

Karena itu, hubungan pemerintah dan pers semestinya tidak dibangun atas dasar rasa saling curiga, melainkan atas dasar saling menghormati peran masing-masing.

BACA JUGA:  El Adrian Shah: Simbol Politik Sejuk, Tokoh Muda Sahabat Semua Golongan, Siap Lanjutkan Hanura Sumut

*(Kualitas Komunikasi)*

Pernyataan Rico Waas yang menekankan pentingnya informasi yang “benar, sehat, dan tidak membuat masyarakat tersesat” menunjukkan bahwa kualitas komunikasi publik tidak hanya ditentukan oleh banyaknya informasi yang beredar, tetapi juga oleh mutu informasi tersebut.

Di tengah derasnya arus media digital dan maraknya disinformasi, masyarakat memerlukan media yang mampu menjadi penjernih, bukan penambah kebingungan.

Di sisi lain, amanah yang kembali diberikan kepada Muhammad Edison Ginting untuk memimpin PWPM menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya jurnalistik yang profesional.

Organisasi wartawan tidak cukup hanya menjadi wadah silaturahmi atau kegiatan seremonial. Lebih dari itu, ia perlu menjadi ruang pembelajaran, peningkatan kompetensi, dan penguatan integritas profesi.

Karena itu, gagasan Rico Waas tentang peningkatan kualitas wartawan melalui karya tulis, fotografi jurnalistik, penulisan sejarah, budaya, hingga karya visual patut dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi ekosistem informasi di Kota Medan.

Wartawan masa kini dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga mampu menyajikan karya yang kaya data, memiliki konteks, dan memberi nilai tambah bagi pembaca.

BACA JUGA:  Gubsu Edy Rahmayadi “Lega” atas Penjelasan PT WK soal Proyek Jalan Rp 2,7 T

Kemitraan yang sehat bukan berarti pers kehilangan independensinya. Justru sebaliknya, kemitraan yang baik memberi ruang bagi pers untuk menyampaikan apresiasi terhadap keberhasilan pemerintah sekaligus menyampaikan kritik yang objektif ketika diperlukan. Pemerintah memperoleh masukan yang konstruktif, sedangkan masyarakat memperoleh informasi yang dapat dipercaya.

Mungkin di sinilah makna terdalam filosofi “Cobra” menemukan relevansinya. Bukan karena ketajaman yang menakutkan, melainkan karena integritas yang melahirkan kewibawaan. Pers yang disegani bukanlah pers yang gemar menciptakan sensasi atau memperbesar polemik, tetapi pers yang mampu menghadirkan fakta, analisis, dan solusi secara berimbang.

Apabila filosofi itu terus dipelihara dan dipertemukan dengan komitmen pemerintah untuk membangun komunikasi publik yang terbuka, maka Kota Medan tidak hanya akan memiliki pemerintahan yang komunikatif, tetapi juga ekosistem pers yang sehat, profesional, dan mencerdaskan. Sebab pada akhirnya, pemerintah yang kuat membutuhkan pers yang kuat pula—bukan sebagai lawan, melainkan sebagai mitra yang sama-sama mengabdi kepada kepentingan masyarakat (*Zulfikar Tanjung bersertifikat wartawan utama dewan pers*)

News Feed