Zulkifli Sitorus dan Inovasi Anti Letih Jamaah Haji, Sumbangan Sumut untuk Pelayanan Haji Nasional
Ada satu pemandangan menarik yang mungkin luput dari perhatian publik di tengah hiruk-pikuk penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 di Debarkasi Medan.
Pemandangan itu bukan tentang pejabat yang berdiri di podium, bukan pula tentang seremonial penyambutan yang meriah. Yang menarik justru sesuatu yang sederhana: jamaah haji tidak lagi dipaksa menunggu.
Padahal, mereka baru saja menempuh perjalanan panjang dari Tanah Suci. Sebagian besar berusia lanjut.
Sebagian datang dengan tubuh yang masih menyimpan lelah setelah menjalani rangkaian ibadah haji yang menguras tenaga dan emosi.
Dalam situasi seperti itu, yang paling dibutuhkan jamaah bukanlah sambutan panjang atau pidato berlapis-lapis. Mereka hanya ingin satu hal: pulang.
Di sinilah menariknya pendekatan yang diterapkan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sumatera Utara, Dr. H. Zulkifli Sitorus, bersama jajaran Debarkasi Medan.
Dari pengamatan langsung pada proses pemulangan jamaah hingga Kloter 7, terlihat adanya perubahan cara pandang terhadap pelayanan. Ukuran keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh panjangnya acara penyambutan, melainkan seberapa cepat jamaah dapat kembali ke pelukan keluarganya.
Pada Kloter 2, misalnya, jamaah mulai turun dari bus pertama sekitar pukul 15.35 WIB. Seluruh proses penurunan sembilan bus yang membawa sekitar 360 jamaah selesai sekitar pukul 16.12 WIB. Artinya, hanya membutuhkan sekitar 37 menit untuk memindahkan ratusan jamaah dari kendaraan menuju aula debarkasi.
Namun yang lebih menarik, pada saat yang sama seluruh pekerjaan lain juga berjalan bersamaan.
Saat jamaah memasuki aula, truk pembawa koper sudah bergerak. Ketika jamaah duduk di kursi sesuai nomor manifes, air zamzam lima liter sudah tersedia. Konsumsi sudah berada di tempat masing-masing. Paspor tidak diambil sendiri oleh jamaah, tetapi diantarkan langsung petugas ke tempat duduk mereka.
Ketika jamaah beristirahat sejenak, administrasi berjalan. Ketika administrasi selesai, koper sudah tersusun rapi di depan pintu keluar. Tidak ada antrean panjang. Tidak ada kerumunan yang membingungkan. Tidak ada jamaah yang harus mondar-mandir mencari barang bawaannya.
Semua berlangsung dalam satu alur yang sederhana, tertib, dan manusiawi.
Bahkan proses penyambutan resmi pun dibuat singkat. Pada Kloter 2 yang dihadiri Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya, acara penyambutan berlangsung sekitar 20 menit. Setelah itu jamaah langsung dipersilakan menuju keluarganya masing-masing.
Kloter-kloter berikutnya bahkan berlangsung lebih cepat lagi.
Apa yang dilakukan Debarkasi Medan sejatinya sejalan dengan semangat baru yang dibangun Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia. Tahun ini pemerintah menekankan pentingnya memangkas birokrasi, mengurangi seremoni yang tidak perlu, mempercepat layanan, dan mengutamakan kenyamanan jamaah.
*(Pelayanan Terbaik)*
Saat ditanya wartawan mengenai pola pelayanan tersebut, Zulkifli Sitorus menegaskan bahwa seluruh langkah yang dilakukan semata-mata untuk memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah.
Menurutnya, jamaah yang baru pulang dari Tanah Suci harus mendapatkan pelayanan yang cepat, nyaman, dan tidak lagi dibebani proses yang dapat menambah kelelahan mereka.
Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana. Namun justru di situlah makna sesungguhnya.
Sebab pelayanan publik yang baik bukan selalu ditandai oleh hal-hal besar. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: mempersingkat waktu tunggu, menghilangkan antrean, mengurangi birokrasi, dan membiarkan orang yang lelah segera pulang ke rumahnya.
Karena itu, jika harus dicari satu warisan penting dari penyelenggaraan Debarkasi Medan tahun ini, mungkin jawabannya bukan pada angka-angka statistik semata. Melainkan pada lahirnya sebuah pendekatan baru yang layak dipertahankan: inovasi anti letih jamaah haji.
Sebuah pelayanan yang tidak berpusat pada birokrasi, melainkan berpusat pada manusia. Dan dalam konteks itulah, apa yang dilakukan Zulkifli Sitorus bersama jajaran Debarkasi Medan patut diapresiasi sebagai salah satu praktik baik pelayanan publik yang memberi makna nyata bagi para tamu Allah yang baru kembali dari Tanah Suci. (*zulfikar tanjung bersertifikat wartawan utama dewan pers)*











