MEDAN – Harga CPO belakangan ini stabil dan bertahan mahal di atas 3.300 ringgit per ton. Harga CPO saat ini bertengger dikisaran angka 3332 ringgit per tonnya.
Tren kenaikan harga CPO tidak terlepas dari sejumlah isu. Seperti kemungkinan membaiknya hubungan dagang antara China-Amerika Serikat.
Menurut Pengamat Ekonomi, Gunawan Benyamin, harga CPO dipicu oleh optimisme kinerja industri dunia maupun ekonomi global yang akan mengalami pemulihan setelah ditemukannya vaksin covid 19.
” Memang ada harapan pemulihan ekonomi yang bisa saja membuat kinerja harga CPO ke depan mengalami penguatan. Bahkan ada harapan konsumsi CPO global akan mengalami peningkatan. Meskipun belum 100% jaminan kesana. Setidaknya ada beberapa isu penting mungkin menjadi catatan khusus. Diantaranya perang dagang masih berlanjut setelah Presiden AS terpilih Joe Biden menjabat nanti,” kata Gunawan Benyamin, di Medan, Selasa (8/12).
” Ini yang masih menjadi tanda tanya besar. Karena kalau berlanjut bisa saja tren penguatan harga CPO akan tertahan. Nah, dampak dari kenaikan harga CPO saat ini tentunya akan membuat petani senang. Malah petani akan diuntungkan dengan kenaikan harga CPO tersebut. Tetapi dampak nyata dialami konsumen saat ini adalah kenaikan harga minyak goreng.,” beber Gunawan.
Gunawan menyebut, harga minyak goreng sempat di kisaran Rp12.000-Rp12.500 per kg sebelumnya. Saat ini sudah berada dikisaran Rp13.500- Rp14.000 per Kg.
Kenaikan harga tersebut, kata dia,terjadi dalam sepekan terakhir. Jadi konsumen sangat dirugikan saat ini dengan ke naikan harga minyak goreng.
” Tetapi secara keseluruhan, kenaikan harga CPO lebih banyak memberikan kemaslahatan bagi masyarakat di Sumatera Utara. Mengingat daerah ini lebih banyak meng andalkan sawit dalam porsi pertumbuhan ekonominya,” ujarnya. (bay/red)
(01/strateginews.co)












Komentar