PROFESSOR JEPANG KUNJUNGI MUSEUM DJUANG 45 SUMUT : TERHARU JEJAK PENDUDUKAN JEPANG DITAMPILKAN DI MUSEUM
Dua ilmuwan Jepang dari Nihon University kemarin sore 6 September 2023 berkunjung ke.Museum Djoeang 45 di Gedung DHD 45 Sumut jalan Pemuda 17 Medan. Kedua ilmuwan itu yakni Prof.Dr.Yamashita Kiyomi dan asisten Professor Dr.Masatoshilto berkunjungnke Museum Djoeang setelah mendengar bahwa museum ini megoleksi berbagai peninggalan Jepang masa pendudukan di Sumut periode 1942-1945 seperti prangko, uang, surat kabar dalam bentuk asli. Kunjungan ini diterima oleh Ketua Bidang NKBI DHD 45 Sumut, sejarahwan Dr.phil.Ichwan Azhari mendampingi pemandu museum Jura Hasibuan SPd.
Kedua ilmuwan Jepang ini terharu masih terawatnya prangko Jepang dengan cetak tindih aksara Kanji Jepang di atas prangko Belanda dan distempel aksara Kanji Jepang saat masa pemakaiannya di kantor pos Medan. Kedua ilmuwan itu baru pertama kali melihat prangko itu dan belum pernah melihatnya di Jepang. Bagi keduanya ini kerupakan peninggalan yang mengharukan bagi orang Jepang. Sebagaimana diketahui, prangko masa itu merupakan benda sangat penting, setara dengan pulsa/paket data dan uang digital di masa kini. Prangko berfungsi sebagai identitas keberadaan suatu otoritas negara atau militer disitu tempat untuk mengirim surat, dokumen, foto bahkan uang ke seluruh dunia.
Prof. Yamashita dan Dr.Masatoshilto juga tertarik melihat uang Jepang yang dicetak Jepang khusus berlaku pada masa pendudukan. Kedua ilmuwan ini melakukan alih aksara huruf huruf kanji Jepang di uang Jepang dan Prangko untuk diberikan kepada pengelola museum. Keduanya juga membaca sekitar 16 surat kabar asli propaganda Jepang yang dihadirkan di museum.
Dr.phil.Ichwan Azhari.kepada media mengatakn, kedu Professor Jepang ini sedang berada di Medan terkait penelitian mereka tentang keberadaan bunker bunker Jepang di Indonesia, termasuk bunker Jepang yang banyak terdapat di Sumatera Utara. Keduanya kata Ichwan kagum manakala diperlihatkan di museum Djoeang juga ada foto foto bunker dan bulan Agustus lalu peserta Festival Video Kebangsaan yang mengangkat Bunker Jepang di Batubara. Keduanya senang karena mendapat kesempatan menonton di ruangan audio visual.Museum Djoeang 45. Video bunker Jepang di Batubara meruoakan koleksi Museum Djoeang yang dihasilkan generasi muda dalam festival video kebangsaan. Bunker Batubara itu dibuat tahun 1942 dan keberadaannya saat ini masih terawat.
Selain menonton video Bunker Batubara, kedua ilmuwan Jepang ini mendapat kesempatan menonton cuplikan film The Bunker yang saat sedang tahap finishing produksi mahasiswa Polmed Medan. Film The Bunker merupakan film dokumenter tentang bunker Jepang di Medan yang kini sudah menjadi rumah warga. Pihak.museum juga mengundang pembuat film untuk menjelaskan bunker yang mereka buat.
Kedua Professor Jepang ini lebih lanjut menyampaikan testimoni tentang museum Djoeang 45 ini sebagai museum yang unik, merekam beragai peristiwa dunia yang penting melibatkan berbagai negara termasuk Jepang, pada masa peralihan pembentukan Republik Indonesia di Sumatera Utara. Terlebih lagi mereka sangat tergugah di museum ini karena museum.menampilkan ada banyak tentara Jepang yang membelot dari Jepang dan bergabung dengan pasukan republik berperang melawan pasukan sekutu di Sumatera Utara.
Keduanya terkesan dengan museum dan akan mengiinformasikan keberadaan museum ini pada komunitas sejarah di Jepang.
Dr.phil.Ichwan Azhari juga menjelaskan pada dua proses Jepang ini bahwa gedung Juang 45 ini.merupakan situs sejarah berkaitan dengan pasukan Gyugun dan Heiho yang dibubarkan Jepang karena kalah pada perang dunia kedua. Kedua tamu Jepang sangat senang berada di situs sejarah Gedung Juang yang tidak tersuga bisa mereka kunjungi.
Dr.phil. Ichwan Azhari saat menjelaskan prasasti gedung Djoeang 45 kepada kedua professor Jepang, kemarin 6 September 2023.
Kepada media Prof Yamashita Kiyomi mengatakan biasanya di Jepang tidak bsa melihat benda yang bersejarah terkait pendudukan Jepang di.luar negeri. Tapi di Indonesia masih bisa melihat lokasi dan benda benda ini.
Hal ini merupakan sesuatu yang sangat berharga.Asisten Profesor Masatoshi Ito mengatakan sangat mengejutkan bahwa fakta Kota Medan baru mengumumkan kemerdekaan di bulan Oktober dan berbeda di Jakarta, sebagaimana dikumpulkan di museum ini. Beliau merupakan merupakan keturunan mantan tentara jepang yang bertugas di Sumatera Utara.











