oleh

Slamet Satu Satunya Penghasil Madu Asal Simalungun di Sumut

Hingga madu Takoma mempunyai sertifikasi halal dan mulai bisa dipasarkan secara meluas. Dinas peternakan, Dinas Koperasi dan UMKM  Propinsi Sumatera Utara membantu Takoma untuk pengembangbiakan jenis lebah menyengat (apis cerana) dan tidak menyengat (trigona sp) penghasil madu.

Dari 1 setup jika musim pancaroba bisa panen besar dan menghasilkan 3 kg madu. Bahkan madu bisa langsung dinikmati langsung dari setup (dihisap) dijual 500 hingga jutaan rupiah/kg, kata Slamet yang ditemui wartawan Minggu (7/2/2021) di penangkaran lebah Nagori Sait Buttu Saribu Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun.

Pemkab Simalungun Tutup Mata

Meski Takoma berpotensi dan memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Namun Pemkab Simalungun nyaris tak menjamah kegiatan masyarakat (kelompok tani tersebut). Banyaknya bantuan UMKM yang digulirkan pemerintah khususnya bagi UMKM di tengah pandemi, tak pernah dirasakan oleh masyarakat pemilik usaha di daerah Simalungun.

“Mereka (Pemkab) sudah tahu, dan beberaoa kali datang tapi belum ada bantuan bergulir,” kata beberapa Poktan penfhasil madu dan kopi itu.

“Kami ada beberapa Poktan pengembangan madu dan kopi di sini,” katanya.

Slamet juga menuturkan, dibantu Bank Indonesia Pematangsiantar dalam pengembangan madu berupa pengadaan stup dan Glodok. Kini, setup kami bisa mandiri dengan membuatnya, hanya golodok yang perlu dibantu.

BACA JUGA:  Ginting Ditemukan Tewas di Pancurbatu, Kuasa Hukum Bilang Oknum Polisi

Glodok yang terbuat dari batang kelapa dan diramu sebagai tempat memanggil lebah. Setelah 3 bulan akan dipindahkan ke setup, sebut Slamet.

Poktan Takoma saat ini secara mandiri membangun gallery Madu, dan masih memerlukan bantuan semua pihak. Karena untuk membangun suatu gallery Madu diperlukan dana ratusan juta.

Desain gallery akan menyediakan cafe yang menyajikan beraneka minuman dari madu dicampur herbal lainnya, tempat menginap tamu, lahan parkir dan tempat pengemasan.

BACA JUGA:  Suami di TPS, Istri Gorok Tiga Anak Kandung

Tempat menginap tamu, disebabkan penangkaran lebah ini juga dijadikan sebagai tempat obeservasi. “Dari IPB, USI, peternak lebah dari Padang Sidempuan dan lainnya juga melakukan observasi di sini selama 3 hingga 10 hati. Sehingga perlu ada fasilitas,” kata Slamet.

Slamet juga berharap Pemkab Simalungun turut membantu masyarakat khususnya Poktan Takoma. Dengan membangun sarana akses jalan yang layak menuju ke penangkaran. “Bukan hanya penangkaran tetapi bisa menjadi tujuan wisata,” harap nya. (RH)

Komentar

News Feed