oleh

Eksepsi tidak Dapat Diterima, Perkara Jual Beli Vaksin dr Kristinus Lanjut

MEDAN – Pemeriksaan pokok perkara korupsi berbau suap terkait jual beli Vaksin Covid-19 secara massal selama 2 bulan, mulai April 2021 lalu dengan terdakwa dr Kristinus Saragih dipastikan lanjut.

Majelis hakim diketuai Saut Maruli Tua Pasaribu, dalam putusan sela, Rabu (6/10/2021), menyatakan keberatan (eksepsi) terdakwa melalui penasihat hukumnya (PH), tidak dapat diterima.

Sebaliknya dakwaan JPU dari Kejati Sumut dimotori Hendri Sipahutar dinilai sudah jelas menguraikan tindak pidana terdakwa jual beli vaksin. Baik secara formil maupun materil.

BACA JUGA:  Di Pilpres 2024, Gerindra dan PAN Siap Lanjutkan Kerjasama Politik yang Terjalin Sejak 2014-2019

“Baik ya. Putusan sela sudah dibacakan. Dan sidang selanjutnya pemeriksaan pokok perkaranya. Kapan bisa dihadirkan saksi-saksinya Pak Jaksa?” kata Saut Maruli dan dijawab Hendri Sipahutar, minggu depan.

Di bagian lain tim JPU dapat perintah, agar kembali menghadirkan terdakwa dr Kristinus di persidangan secara video teleconference (vicon).

3 Terdakwa

Selain Kristianus Saragih, JPU juga menjadikan dr Indra Wirawan dan agen salah satu agen properti di Medan, Selviwaty alias Selvi sebagai terdakwa jual beli vaksin lainnya (juga berkas penuntutan terpisah).

BACA JUGA:  Kurir 2,1 Kg Sabu Jalani Sidang Perdana, Saksi Polisi Sepeda Motor Terdakwa Jadi Petunjuk

Uraian dalam dakwaan, terdakwa Selvi yang menginisiasi pelaksanaan vaksinasi secara massal berbayar. Lewat sambungan telepon seluler (ponsel) Selvi melobi kedua dokter juga Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Kesehatan Provsu.

Akhirnya ada kesepakatan harga, sekali vaksin Rp250.000 per orang. Dengan komitmen terdakwa Selvi mendapatkan ‘komisi’ -sesuai dakwaan- antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta.

Sedangkan Vaksin Covid-19 yang terdakwa Kristinus Saragih dan Indra Wirawan pergunakan, adalah sisa vaksin yang seharusnya kembali ke Dinas Kesehatan Sumut bukan untuk di jual beli.

BACA JUGA:  Pejabat Kemenkeu Dirombak, Rio Silaban Jadi Dirjen Kekayaan Negara

Vaksin massal tersebut berlangsung selama dua bulan, mulai April 2021 baru lalu. Di antaranya vaksin untuk 50 orang (Rp12.500.000), 18 orang (Rp4.500.000), 103 orang (Rp25.750.000). Kemudian, 90 orang (Rp22.500.000), 40 orang (Rp10 juta) dan 60 orang (Rp15 juta).

Terdakwa Indra Wirawan dan Kristinus Saragih masing-masing terjerat pidana perbuatan berlanjut. Yaitu,… Baca Selanjutnya di www.topmetro.news

Komentar

News Feed