oleh

5 Asosiasi Arsitek Kritik Desain Istana Presiden Baru

NASIONAL– Desain istana presiden yang baru terbongkar. Namun 5 asosiasi arsitek mengkritik perencanaan, rancangan desain Istana Negara di Ibu Kota Negara (IKN) yang berada di Kalimantan Timur (Kaltim) itu. Tapi salahnya dimana?

Lima asosiasi itu meliputi, Asosiasi Profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Green Building Council Indonesia (GBCI). Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP).

Kritikan itu terpusat pada bangunan istana yang bebentuk burung Garuda.

Banjir Kritikan

Menurut, Ketua Asosiasi Arsitek IAI Ketut Rana Wiacha, bangunan yang menyerupai Garuda tidak mencirikan kemajuan peradaban bangsa Indonesia di era digital dengan visi yang berkemajuan, era bangunan emisi rendah dan pasca Covid-19.

BACA JUGA:  Dua Putri Palas Ikuti Pelatihan Persiapan STQH Nasional

“Bangunan gedung istana negara seharusnya merefleksikan kemajuan peradaban/budaya, ekonomi dan komitmen pada tujuan pembangunan berkelanjutan negara Indonesia dalam partisipasinya di dunia global,” ujar Rana dalam keterangannya, Selasa (30/3/2021).

Rana Asosiasi Arsitek melanjutkan, bangunan gedung istana negara seharusnya menjadi contoh bangunan yang secara teknis sudah mencirikan prinsip pembangunan rendah karbon dan cerdas sejak perancangan, konstruksi hingga pemeliharaan gedungnya.

Metafora terutama secara harfiah dan keseluruhan dalam dunia perancangan arsitektur era teknologi 4.0 adalah pendekatan yang mulai ditinggalkan, karena ketidakampuan menjawab tantangan dan kebutuhan arsitektur hari ini dan masa mendatang.

BACA JUGA:  Usut Dana Hibah Miliaran Rupiah, Kejati Sumut Periksa Puluhan Kepala Sekolah

Metafora hanya mangandalkan citra, yang dilakukan secara keseluruhan dapat diartikan secara negatif dikaitkan dengan anatomi tubuh yang dilekatkan dalam metafor.

“Metafora harfiah yang direpresentasikan melalui gedung patung burung tersebut tidak mencerminkan upaya pemerintah. Dalam mengutamakan forest city atau kota yang berwawasan lingkungan,” ucap Asosiasi Arsitek.

Dalam hal ini, Rana merekomendasikan, Istana versi burung Garuda disesuaikan menjadi monumen atau tugu yang menjadi tengaran pada posisi strategis tertentu di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) dan dilepaskan dari fungsi bangunan istana.

Selain itu, dia mengusulkan desain bangunan gedung istana agar disayembarakan dengan prinsip dan ketentuan desain. Yang sudah disepakati dalam hal perancangan kawasan maupun tata ruangnya termasuk target menjadi model bangunan sehat beremisi nol.

BACA JUGA:  FKDM Sumut Siap Petakan Isu Residu Pembangunan di Sumut

Terkait kepentingan awal pembangunan IKN, diungkapkannya, memulai pembangunan tidak harus melalui bangunan gedung. Tetapi dapat melalui TUGU NOL yang dapat ditandai dengan membangun kembali lanskap. Hutan hujan tropis seperti penanaman kembali pohon endemik Kalimantan.

“Kami berharap pendapat bersama ini dapat menjadi bahan pengayaan dan masukan bagi pemerintah dalam menyiapkan pemindahan dan pembangunan IKN ini,… Baca Selanjutnya di www.topmetro.news

Komentar

News Feed