oleh

Aktivis Nelayan Minta Walikota Bobby Perhatikan Nelayan Tradisional Belawan

BELAWAN – realitasonline.id | Walikota dan Wakil Walikota Medan terpilih  Boby Afif Nasution dan  Aulia Rachman diminta agar memperhatikan nasib nelayan skala kecil (nelayan tradisional) di Kecamatan Medan Belawan, Kamis (4/3/2021).

Pasalnya, Sejumlah Nelayan tersebut hingga kini Sulit mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi dan masih beroperasinya kapal-kapal pukat trawl yang merajalela hingga membuat penghasilan nelayan sangat minim dan menderita ntah sampai kapan.

“Untuk mendapatkan solar aja kami harus beli sendiri ke SPBU dengan harga pasaran,” kata salah seorang nelayan jaring selapis M Tajul Arifin ditemui ditangkahannya.

Sulitnya mendapatkan solar, Kata dia, disebabkan tidak berfungsinya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) sejak beberapa tahun lalu.

“Dulu memang ada tiap kelurahan SPBN nya tapi tidak diperuntukan nelayan seolah dikelolah sekelompok orang mengatasnamakan nelayan,” tuturnya.

BACA JUGA:  Jadi Prioritas 2021, Fahira Idris: RUU Miras Sangat Akomodatif, Semoga Tahun Ini Disahkan

Aktivis Nelayan yang juga Ketua Aliansi Nelayan Kecil Modren (ANKM 1) Rahman Gafiqi. SH menegaskan Sudah bertahun-tahun nelayan di Medan Utara ini menderita sementara para pemilik kapal-kapal pukat trawl dan pengelola bisnis perikanan semakin kaya raya.

“Ironisnya, permasalahan dan penderitaan nelayan tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah,” tegas Rahman Gafiqi dihubungi Realitasonline.id, Rabu (3/3).

Rahman menyebutkan, para nelayan kecil dan tradisional sulit mendapatkan minyak solar subsidi sebagai bahan pokok untuk melaut.

Di mana zona-zona tangkap nelayan tradisional semakin hari semakin hancur mulai dari beroperasinya kapal-kapal berskala besar yang menggunakan alat tangkap yang dilarang UU No 45 tahun 2009 tentang perikanan seperti kapal-kapal pukat trawl, bauke hami dan kapal-kapal pukat teri lingkung yang melakukan penangkapan ikan di wilayah tangkap nelayan kecil berakibat terus berkurangnya hasil tangkap para nelayan.

BACA JUGA:  PILGUBSU 2024 Partai Demokrat Tugaskan Teguh Santosa Dampingi Bobby Nasution

“Akibat semakin kompleksnya permasalahan para nelayan tradisional tentu saja membuat perekonomian nelayan tradisional semakin terpuruk. Bagaimana para nelayan bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga keperguruan tinggi jika  hasil tangkap nelayan dan kebutuhan pokok nelayan tak dapat dibeli dengan harga subsidi,” tuturnya.

Oleh sebab itu, Rahman menambahkan, ANKM-I Sumut berharap kepada Wali Kota Medan yang baru agar segera memperhatikan nasib  nelayan tradisional di pesisir Medan Utara yang selama ini  terus terdzholimi oleh keangkuhan dan ketamakan para pengusaha yang mengeruk hasil laut yang menjadi rumah dan sumber kehidupan bagi nelayan itu sendiri.

“Ya, Harapan kami juga agar Wali Kota Medan yang baru ini membuat terobosan baru terutama membuat Rumpon (rumah ikan) di zona-zona tempat para nelayan melakukan penangkapan ikan agar menjaga kelestarian laut dan menjadikan lahan baru bagi daerah tangkap nelayan tradisional khususnya nelayan pesisir utara Kota Medan.

BACA JUGA:  Maksa Masuk Kota Medan, Polisi Tahan 12 Bus

Disinggung terkait BBM jenis solar bersubsidi, Pria yang aktif menyuarakan keluhan nelayan itu mengungkapkan sudah bertahun-tahun nelayan tradisional sulit mendapatkan minyak solar subsidi dan tidak adanya stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN)  bagi 20 ribu nelayan kecil khususnya nelayan pesisir utara Kota Medan.

“Hanya para  pengusaha kapal pukat trawl dan pengelola perikanan yang mendapatkan solar subsidi dengan partai besar sementara nelayan kecil dan nelayan tradisional sulit mendapatkannya,”pungkasnya. (AH)

Komentar

News Feed