oleh

Diduga Gegara Nomor Antrian, Berujung Maut

LANGKAT – Hanya karena diduga nomor antrian memasukkan buah kelapa sawit, dua orang tewas bersimbah darah dengan masing-masing luka menganga di bagian kepala. Sementara ada seorang lainnya mengalami luka di bagian pergelangan tangan kirinya.

Keributan berdarah yang menyebabkan kehilangan nyawa tersebut, menurut informasi, terjadi di salah satu pabrik brondolan kelapa sawit di Desa Paya Mabar, Kecamatan Stabat, Langkat, Minggu (30/1/2022) kemarin.

Sayangnya, peristiwa penghilangan nyawa orang lain karena diduga nomor antrian yang terjadi di salah satu pabrik brondolan kelapa sawit tersebut, tidak terendus pihak kepolisian. Karena ada dugaan, pihak pemilik pabrik dan karyawan menutup-nutupi kasus itu.

Info yang diterima topmetro.news dari sumber yang juga merupakan warga pemasok berondolan sawit di pabrik tersebut menyebutkan. Bahwa kedua korban tewas bernama Rudi, warga Aceh dan Dedi, warga Tebingtinggi. Sementara yang menderita luka di pergelangan tangannya belum diketahui namanya.

BACA JUGA:  Polisi Bungkam, Judi Tembak Ikan Merek Casper dan Bintang123 Menjamur di Medan

Sayang, informasi yang diterima topmetro.news masih sangat terbatas. Bahkan, topmetro.news mencoba menelusuri beberapa rumah sakit untuk mencari data-data autentik tentang kebenaran informasi, sesuai dengan video dan foto yang masuk ke media ini. Namun belum membuahkan hasil.

Pihak pemilik pabrik bernama Abun yang sempat dikonfirmasi, mengaku tidak ada peristiwa keributan yang menyebabkan dua orang tewas dengan kondisi mengenaskan. Apalagi, pabrik milik Abun itu disebut-sebut telah disewakan kepada rekannya warga sekitar Tandam.

BACA JUGA:  Ginting Ditemukan Tewas di Pancurbatu, Kuasa Hukum Bilang Oknum Polisi

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Langkat AKP Muhammad Said Husen SIK, saat dihubungi untuk menyampaikan informasi tersebut. Seperti biasa, enggan untuk menerima panggilan topmetro.news.

Sementara itu, Kanit Pidum Ipda Herman F Sinaga SSos,… Baca Selanjutnya di www.topmetro.news

News Feed