oleh

Menanggapi Editorial Mimbar Umum: Menyelamatkan Warisan Muhammad TWH dan Membangun Jurnalisme Masa Depan

Menanggapi Editorial Mimbar Umum: Menyelamatkan Warisan Muhammad TWH dan Membangun Jurnalisme Masa Depan

Oleh Ir Zulfikar Tanjung

Dunia pers Sumatera Utara kehilangan sosok besar dengan wafatnya Drs. H. Muhammad TWH, seorang wartawan senior yang tidak hanya menjadi saksi perjalanan sejarah jurnalistik di daerah ini, tetapi juga penjaga warisan intelektual pers.

Editorial Mimbar Umum Senin 3 Februari 2024 yang mengulas kiprah dan dedikasi beliau menggugah kesadaran kita akan pentingnya melestarikan warisan sejarah pers yang telah beliau tinggalkan.
Namun, ada satu ironi yang tidak bisa diabaikan:

Museum Perjuangan Pers Sumatera Utara, yang dibangun Muhammad TWH dengan ketekunan dan kecintaan terhadap sejarah, kini terabaikan dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Museum ini bukan hanya milik keluarga beliau, tetapi menjadi aset intelektual yang seharusnya dilindungi oleh semua pihak, terutama pemerintah dan komunitas pers.

*Museum Perjuangan Pers: Warisan Berharga yang Terlupakan*

Editorial Mimbar Umum menyoroti fakta bahwa hingga akhir hayatnya, Muhammad TWH masih berharap adanya dukungan konkret untuk perawatan dan renovasi museum yang menyimpan koleksi surat kabar lawas, biografi tokoh, dan dokumen penting sejarah pers di Sumatera Utara. Sayangnya, harapan itu belum terwujud.

Pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kota, memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk menyelamatkan museum ini.

BACA JUGA:  1,9 Miliar Pengadaan Spare Part X Ray KNIA di PL kan, SPS Agen Tunggal Kemendag Calon Penyedia Diduga Kadaluarsa

Jika tidak segera ditangani, kita berisiko kehilangan jejak sejarah yang sangat berharga bagi dunia jurnalistik dan masyarakat Sumatera Utara secara keseluruhan.

Dukungan yang diperlukan bukan hanya dalam bentuk dana renovasi, tetapi juga pengelolaan berkelanjutan, misalnya dengan menjadikan museum ini sebagai pusat dokumentasi sejarah pers atau tempat edukasi bagi mahasiswa jurnalistik dan masyarakat umum.

*Menghidupkan Warisan Muhammad TWH untuk Generasi Muda*

Warisan Muhammad TWH tidak terbatas pada museum dan arsip sejarah, tetapi juga etos kerja dan nilai-nilai jurnalistik yang ia anut sepanjang hidupnya.

Dalam berbagai karyanya, beliau menekankan bahwa pers bukan sekadar alat pemberitaan, tetapi juga sarana pendidikan, pengingat sejarah, dan pilar demokrasi.

Di era digital yang serba cepat ini, jurnalis muda menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjaga integritas dan kedalaman analisis di tengah derasnya arus informasi. Kisah hidup Muhammad TWH adalah pengingat bahwa jurnalisme sejati menuntut ketekunan, dedikasi, dan tanggung jawab moral terhadap kebenaran.

Untuk itu, dunia akademik dan komunitas pers dapat mengambil inisiatif dengan menyelenggarakan program edukasi berbasis sejarah pers Sumatera Utara.

Seminar, lokakarya, atau kelas literasi media yang mengangkat karya-karya Muhammad TWH dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin menapaki dunia jurnalistik dengan idealisme yang kuat.

BACA JUGA:  Tandai Eratnya Hubungan Indonesia – Sri Lanka dengan SIPFA

*Digitalisasi Arsip: Menjaga Warisan Intelektual untuk Masa Depan*

Di era digital saat ini, ada satu langkah konkret yang dapat dilakukan untuk menjaga warisan Muhammad TWH: digitalisasi arsip dan karya-karya beliau. Koleksi surat kabar lawas, buku sejarah, dan dokumentasi yang tersimpan di Museum Perjuangan Pers harus segera didigitalkan agar bisa diakses lebih luas oleh publik.

Digitalisasi tidak hanya akan membantu melestarikan dokumen-dokumen berharga, tetapi juga memudahkan generasi muda dan akademisi dalam mempelajari sejarah pers Sumatera Utara. Hal ini juga bisa menjadi solusi atas minimnya perhatian terhadap museum secara fisik, karena akses digital memungkinkan penyebarluasan informasi tanpa batas geografis.
Langkah ini bisa dimulai melalui kerja sama antara pemerintah daerah, komunitas pers, universitas, dan lembaga budaya. Jika digarap dengan serius, warisan intelektual Muhammad TWH tidak hanya akan bertahan, tetapi juga berkembang sebagai sumber pengetahuan yang lebih luas.

*Meneladani Etos Kerja Muhammad TWH untuk Masa Depan Jurnalisme*

Selain menyelamatkan warisan fisik dan intelektualnya, hal yang paling penting adalah mewarisi semangat dan etos kerja Muhammad TWH dalam dunia jurnalistik.
Di tengah gelombang disrupsi digital dan maraknya informasi yang tidak terverifikasi, jurnalis masa kini perlu meneladani ketekunan dan prinsip-prinsip yang dipegang teguh oleh almarhum. Karya-karyanya yang tajam dan analitis menunjukkan bahwa jurnalisme sejati harus didasarkan pada riset mendalam, keberanian dalam menyampaikan kebenaran, serta komitmen terhadap kepentingan publik.
Tugas ini bukan hanya milik wartawan, tetapi juga akademisi, komunitas pers, dan masyarakat umum yang peduli terhadap kualitas informasi di ruang publik. Jika kita ingin melihat jurnalisme yang lebih baik di masa depan, maka warisan Muhammad TWH harus dijadikan inspirasi, bukan sekadar kenangan.

BACA JUGA:  Sergai di Guyur Hujan Lebat, Halaman Rumah Warga Digenangi Air

*Dari Menyelamatkan Sejarah ke Membangun Masa Depan*

Menanggapi editorial Mimbar Umum, ada satu pesan penting yang harus kita garisbawahi: warisan Muhammad TWH tidak boleh dibiarkan terlupakan.
Pemerintah harus bertindak cepat untuk menyelamatkan Museum Perjuangan Pers Sumatera Utara sebagai bagian dari sejarah jurnalistik bangsa. Generasi muda harus memahami dan meneladani perjuangan beliau dalam menjaga integritas pers. Dan kita semua, sebagai bagian dari masyarakat yang peduli akan sejarah dan masa depan jurnalisme, harus memastikan bahwa nilai-nilai yang beliau tinggalkan tetap hidup dan berkembang.
Muhammad TWH telah menjalankan perannya dengan luar biasa. Kini, giliran kita untuk meneruskan perjuangannya.
Selamat jalan, Muhammad TWH. Karya dan dedikasimu akan selalu menjadi cahaya bagi dunia pers Sumatera Utara dan Indonesia. *(penulis wartawan mimbar umum bersertifikat wartawan utama dewan pers)* foto repro ASN 24

News Feed