Pakar Hukum Azmi Syahputra
Dari Orator Mahasiswa Jadi Pendekar Hukum
Ia tumbuh dari keluarga yang sederhana, sejak masih bocah tingkat Sekolah Dasar, Dr. Azmi Syahputra, S.H., M.H telah bergelut dalam kesenian Hadrah dikenal sebagai salah satu bentuk kesenian dalam Islam yang diiringi dengan Rebana Melayu di Kecamatan Medan Deli, sambil melantunkan syair-syair pujian menjadi syiar Agama dan sejak muda aktif berorganisasi.
Kini Azmi tumbuh sebagai pendekar hukum di negeri ini, sebagai seorang pengacara dan menjadi dosen di berbagai perrguruan tinggi. Dari kesenian melayu itulah, Azmi memahami bahwa arti kemanusiaan dan budaya. Itu sebab, ia pun tertarik dengan ilmu hukum.
“Ya sejak SMA tertarik hukum dengan sekolah kejuruan khusus eks sekolah hakim jaksa pada waktu itu bernama sekolah menengah pekerjaan sosia Negeri Medan tahun 1991 dimana sejak SLTA ia Ketua redaksi Majalah Dinding Sekolah juga pernah menjadi Ketua OSIS, dan di sekolahnya pula belajar mata pelajaran hukum dan studi penyelesaian kasus,” kenang pria kelahiran Medan 47 tahun silam ini.
Saat ini, katanya, dirinya lebih fokus pada dunia pendidikan sebagai dosen hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Trisakti dan ikut serta pada tim proofreader KUHP Nasional serta menjadi peneliti di beberapa institusi Kelembagaan Negara.
Selain itu, Azmi juga aktif dalam organisasi, perhimpunan dosen hukum pidana Indonesia dan Pengurus Nasional Masyarat Hukum Pidana Indonesia( Mahupiki) serta dewan pakar Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) serta pengurus Nasional Pemuda Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia.
Azmi juga acap melakukan edukasi hukum kepada masyarakat. Caranya, dengan membangun kesadaran masyarakat sejak dini dengan berkunjung ke sekolah-sekolah.
“Menulis jadi kolumnis hukum diberbagai media cetak dan media elektronik. Juga penyuluhan hukum pada masyarakat, komunitas, berkunjung ke kampus-kampus dengan mengadakan kuliah umum termasuk pelatihan pelatihan hukum,” ucapnya.
Azmi mempunyai impian yakni ingin terwujudnya penegakan hukum yang berkualitas dan berkeadilan serta menjadi manusia dengan sebanyak banyak manfaat.
Pengajar yang sudah 20 tahun lebih jadi dosen ini, sejak SMP ternyata sering berkunjung dan meminjam buku di perpustakaan daerah Jl. Brigjen Katamso (depan istana Maimon) Medan dan menjadi anggota perpustakaan.
Tidak hanya itu, sejak SMA aktif menulis di harian Mimbar Umum tempat pertama dan tulisannya dimuat, ia juga sering ikut dalam lomba lomba penulisan artikel ilmiag dan pernah juara III nasional penulisan artikel nasional tingkat SLTA di tahun 1994. Ia juga suka menulis sastra dalam bentuk puisi dan nulis lirik lagu, dan dalam perjalanannya mengemas puisi dalam narasi hukum yang ia namakan “sastra hukum.”
Azmi juga penerima beasiswa supersemar sejak SMA dan pada saat kuliah di Fakultas Hukum Umsu ia adalah salah satu Orator atau singa podium pada era reformasi 1998, ia juga penerima beasiswa program pascasarjana tingkat Magister Hukum dan Program Doktoral di Universitas Padjadjaran Bandung. “Motto hidup saya adalah, Hiduplah dalam kehidupan yang menghidupkan,” katanya.
Pakar Hukum yang sering menjadi narasumber berbagai media cetak, online dan elektronik ini sering juga memberikan keterangan ahli dalam hukum pidana pada tingkat penyidikan di kepolisian, kejaksaan termasuk dalam tindak pidana perpajakan serta memberikan keterangan ahli dalam persidangan pengadilan








